Dalam perdebatan populer tentang hak reproduksi dan seksual, agama formal, khususnya Islam, dipandang sebagai penghalang yang memberikan resistensi institusional dan ideologis terhadap realisasi otonomi reproduksi dan sosial perempuan. Buku ini menantang pandangan sederhana tentang Islam. Berdasarkan penelitian lapangan asli di Indonesia Timur, buku ini mengeksplorasi faktor-faktor kompleks yang mempengaruhi bagaimana perempuan muda Indonesia membentuk subjektivitas seksual mereka. Ini membahas kondisi budaya dan sejarah di mana perempuan Muslim lajang menekan atau mengekspresikan seksualitas mereka, dan mengkaji bagaimana faktor-faktor lain selain Islam secara bersamaan mempengaruhi cara perempuan muda mendekati pacaran, seksualitas dan kesehatan reproduksi di era perubahan sosial yang dinamis. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak sendirian dalam mencoba mengendalikan seksualitas perempuan, juga tidak sepenuhnya berhasil melakukannya. Linda Rae BennettContinue Reading

Di Amerika Serikat, hanya sedikit yang diketahui tentang peran aktif perempuan Muslim selama hampir satu abad dalam budaya keagamaan Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sementara sebagian besar dunia Muslim mengecualikan perempuan dari domain otoritas keagamaan, dua organisasi Muslim terkemuka di negara itu—Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU)—telah menciptakan jaringan besar yang dipimpin oleh perempuan yang menafsirkan teks-teks suci dan menjalankan pengaruh agama yang kuat. Dalam Women Shaping Islam, Pieternella van Doorn-Harder mengeksplorasi karya para pemimpin wanita kontemporer ini, memeriksa sikap mereka terhadap kebangkitan kaum Islamis radikal; tindakan rezim otoriter Soeharto; pendidikan dan pekerjaan perempuan; pengendalian kelahiran dan keluarga berencana; dan moralitas seksual. Pada akhirnya, van Doorn-Harder mengungkapkan banyak cara di mana para pemimpin perempuan Muslim memahamiContinue Reading

Buku ini mengeksplorasi hubungan antara gender, agama, dan aksi politik di Indonesia, menelaah pola tatanan gender yang berlaku dalam sejarah belakangan ini, dan menunjukkan berbagai bentuk kekuatan sosial yang diberikannya kepada perempuan. Ini menguraikan peran yang dimainkan oleh perempuan dalam gerakan nasionalis, dan peran gerakan perempuan dalam penataan negara Indonesia merdeka, politik periode pasca-kemerdekaan langsung dan transisi ke Orde Baru yang otoriter. Ini menganalisis secara rinci hubungan gender rezim Orde Baru, berfokus pada bentuk keluarga kesatuan yang diharapkan oleh sistem keluarga yang diuraikan dalam ideologi Orde Baru dan implikasi kontradiktif dari pembukaan ekonomi untuk modal dan ide asing, untuk hubungan gender . Ini mengkaji bentuk-bentuk aktivisme politik yang mungkin dilakukan gerakan perempuan di bawah Orde Baru, danContinue Reading

Buku ini akan membawa pembaca ke jantung praksis musik religi di Indonesia, rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Anne K. Rasmussen mengeksplorasi soundscape publik yang kaya, di mana wanita melafalkan teks-teks suci Al-Qur’an, dan di mana keragaman yang luar biasa dari gaya dan genre musik Islam yang dipengaruhi Arab, juga dilakukan oleh wanita, berkembang. Berdasarkan penelitian etnografis yang unik dan mengungkap yang dimulai pada akhir “Orde Baru” Suharto dan berlanjut hingga era “Reformasi”, buku ini mempertimbangkan peran musik yang kuat dalam ekspresi nasionalisme agama. Secara khusus berfokus pada gaya musik, peran perempuan, dan isu-isu ideologis dan estetika yang diangkat oleh gaya pengajian Indonesia.Continue Reading

Sebagai salah satu narasumber utama dalam Congress Perempoean Indonesia yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1928 di Yogyakarta (Mataram), Siti Moendjijah pernah menyampaikan sebuah pidato yang visioner tentang perempuan dalam sidang terbuka pada kongres tersebut. Ia menyampaikan pidatonya dalam bahasa Jawa. Redaksi Majalah Soeara Moehammadijah memandang bahwa pidato tersebut sangat progressive bagi perempuan Islam di Indonesia. Oleh karena itu, pidato ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tjitrosoebono, salah seorang redaktur di Majalah Soeara Moehammadijah, untuk diterbitkan. Berikut ini kami sajikan isi lengkap Pidato Siti Moendjijah dalam sidang tersebut yang dimuat dalam Majalah Soeara Moehammadijah Nomor 5 + 6 tahun XI, Bulan Agustus 1929.Continue Reading

Buku ini menawarkan perspektif baru tentang hubungan antara mobilitas dan kategori etnokultural ‘Melayu’. Dengan demikian, ini menimbulkan pertanyaan penelitian baru yang relevan dengan studi tentang mobilitas sosial ekonomi perempuan Indonesia secara lebih umum. Berdasarkan penelitian lapangan di Sambas, sebuah wilayah Indonesia yang berbatasan dengan Malaysia, penelitian ini mendokumentasikan konsekuensi etnokultural dari kehidupan kerja perempuan Melayu Sambas yang sangat mobile. Menekankan pentingnya perbatasan teritorial dalam kehidupan kerja perempuan, studi ini menyoroti bagaimana lokasi perbatasan perempuan tidak hanya memfasilitasi jalur lintas batas migrasi dan perdagangan tenaga kerja internasional, tetapi juga menghasilkan perasaan periferal yang menginformasikan konstruksi imajinatif perempuan tentang perbatasan nonteritorial lain yang membutuhkan untuk dilintasi. Dibentuk oleh kelas sosial, gender, dan kemungkinan ekonomi dan budaya dari desentralisasi politik,Continue Reading

Menyambut Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah tahun 2022, The Aisyiyah Center Universitas Aisyiyah Yogyakarta kembali menggelar seminar dengan tajuk “Arsitektur Gerakan Perempuan Berkemajuan”. Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber sekaligus yang menarasikan gagasan-gagasan segar sebagai masukan bagi Muktamar Aisyiyah mendatang. Gerakan ‘Aisyiyah sebagai bagian dari persyarikatan Muham­ma­diyah dari masa ke masa terus me­ngalami dinamika. Hal ter­sebut terjadi karena dipengaruhi oleh pemikiran yang dinamis dan terbuka. Melihat perubahan dinamika dari masa tahun 1917 hingga saat ini, ‘Aisyiyah memandang per­lu adanya sebuah arsitektur gerakan berke­ma­juan yang membumi dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pentingnya menyusun arsitektur gerakan ber­ke­majuan, menurut Ketua Umum Pimpi­nan Pusat (PP) ‘Aisyi­yah, Siti Noordjannah Djohantini, karena gera­kan ‘Aisyiyah me­nyang­kut seluruh aspek kehidupan yang tidak terbatas hanya pada hal yang berkaitanContinue Reading