Yogyakarta — Dalam sesi inti peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, paparan Dr. Askuri, M.Si. sebagai penulis menghadirkan kerangka berpikir yang memperluas makna syarah itu sendiri. Ia tidak menempatkan syarah sebagai sekadar penjelasan atas teks, tetapi sebagai teks penggerak—sebuah medium yang mendorong transformasi dari gagasan ke praksis. Menurutnya, Risalah Perempuan Berkemajuan adalah teks ideologis yang padat, yang memuat nilai, arah, dan visi gerakan. Namun, sebagaimana banyak teks normatif lainnya, risalah memerlukan proses pembacaan ulang agar tetap hidup dalam konteks yang terus berubah. Di sinilah syarah bekerja: membuka lapisan makna, menghubungkan konsep dengan realitas, serta menghadirkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik gerakan. Askuri menekankan bahwa tradisi syarah dalam keilmuan Islam selalu memiliki dua fungsi sekaligus: menjaga otoritasContinue Reading

Yogyakarta — Dalam peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, sambutan Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, menjadi titik penting yang menegaskan posisi strategis buku ini dalam lanskap gerakan perempuan ‘Aisyiyah. Ia tidak sekadar menyambut terbitnya sebuah karya, tetapi meletakkannya dalam kerangka ideologis yang lebih luas: sebagai bagian dari penguatan Risalah Perempuan Berkemajuan sebagai manifesto gerakan. Evi Sofia Inayati menegaskan bahwa Risalah Perempuan Berkemajuan yang dihasilkan melalui Muktamar ‘Aisyiyah bukanlah dokumen biasa, melainkan arah ideologis yang memandu gerakan perempuan dalam merespons perubahan zaman. Dalam konteks ini, kehadiran buku syarah dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa risalah tidak berhenti sebagai teks normatif, tetapi benar-benar dipahami, diinternalisasi, dan diimplementasikan dalam praksis gerakan. Ia menyoroti bahwa salah satuContinue Reading

Yogyakarta — Di balik peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, terdapat satu penegasan penting yang mengarahkan makna acara ini secara lebih strategis: posisi kampus sebagai ruang produksi gagasan. Hal ini disampaikan secara kuat oleh Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, dalam sambutannya. Dalam pembukaan kegiatan, Dr. Warsiti menegaskan bahwa UNISA Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan tinggi dalam pengertian konvensional, tetapi sebagai basis inkubasi gagasan-gagasan besar ‘Aisyiyah. Pernyataan ini bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan arah kelembagaan yang secara sadar menempatkan kampus sebagai ruang hidup bagi lahirnya pemikiran strategis gerakan. Menurutnya, buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan merupakan contoh konkret bagaimana gagasan ideologis dapat diproduksi, dikembangkan, dan disebarluaskan melalui ekosistem akademik. Kampus, dalamContinue Reading

Yogyakarta — The Aisyiyah Center (TAC) Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Perpustakaan UNISA Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan Launching & Bedah Buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan pada Rabu, 22 April 2026, bertempat di Ruang Sidang Gedung Siti Moendjijah, UNISA Yogyakarta. Kegiatan berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB dan dihadiri oleh akademisi, aktivis ‘Aisyiyah, serta sivitas akademika. Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, yang menegaskan bahwa UNISA Yogyakarta memiliki kebanggaan tersendiri sebagai ruang tumbuhnya gagasan-gagasan besar ‘Aisyiyah. Ia menyampaikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi basis inkubasi pemikiran yang mampu memberi arah bagi gerakan perempuan berkemajuan di Indonesia. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PP ‘Aisyiyah,Continue Reading

In an era shaped by rapid technological change and deep ecological uncertainty, faith is often pulled in two opposing directions. On one side, it is reduced to a private refuge—detached from public life and global challenges. On the other, it is mobilized as a rigid identity marker, reinforcing divisions rather than bridging them. Between these poles, the question becomes urgent: can faith still offer guidance for a world in flux? ICAS 2026 enters this tension with a distinctive proposition—that Islam, when understood as a living and progressive tradition, is not only compatible with modern challenges but capable of engaging them meaningfully. At the center of this proposition stands the role of Muslim women, whose lived realities oftenContinue Reading

In many global forums, inclusion has become a familiar promise. More women are invited, more diverse voices are represented, and panels appear increasingly balanced. Yet beneath this visible inclusivity lies a quieter question: who actually defines the terms of the conversation? Too often, participation does not automatically translate into authority. Women may be present, even vocal, but the frameworks, languages, and categories of knowledge remain shaped elsewhere. In such settings, speaking becomes an act of filling existing structures rather than transforming them. ICAS 2026 enters this terrain with a deeper challenge—not merely to include Muslim women, but to enable them to redefine the very architecture of discourse. From Representation to Epistemology The shift required is subtle butContinue Reading

There is a familiar pattern in global conferences. Ideas are exchanged, networks are formed, inspiration is sparked—and then, slowly, everything dissipates. The energy that once filled the room struggles to survive beyond closing remarks. What remains are proceedings, photographs, and perhaps a few collaborative emails that never quite materialize. ICAS 2026 stands at risk of repeating this pattern. But it also holds the possibility of disrupting it. The question, then, is not only how impactful the conversations will be during the conference, but whether those conversations can endure—taking root as a living movement rather than a temporary gathering. From Event to Ecosystem To move beyond the limitations of a one-time event, ICAS must be understood as partContinue Reading