Risalah sebagai Manifesto, Syarah sebagai Teks Penggerak

Yogyakarta — Dalam peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, sambutan Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, menjadi titik penting yang menegaskan posisi strategis buku ini dalam lanskap gerakan perempuan ‘Aisyiyah. Ia tidak sekadar menyambut terbitnya sebuah karya, tetapi meletakkannya dalam kerangka ideologis yang lebih luas: sebagai bagian dari penguatan Risalah Perempuan Berkemajuan sebagai manifesto gerakan.

Evi Sofia Inayati menegaskan bahwa Risalah Perempuan Berkemajuan yang dihasilkan melalui Muktamar ‘Aisyiyah bukanlah dokumen biasa, melainkan arah ideologis yang memandu gerakan perempuan dalam merespons perubahan zaman. Dalam konteks ini, kehadiran buku syarah dipandang sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa risalah tidak berhenti sebagai teks normatif, tetapi benar-benar dipahami, diinternalisasi, dan diimplementasikan dalam praksis gerakan.

Ia menyoroti bahwa salah satu tantangan utama dalam gerakan adalah kesenjangan antara gagasan dan implementasi. Banyak dokumen penting yang kuat secara konseptual, namun belum sepenuhnya hidup dalam praktik keseharian organisasi. Oleh karena itu, syarah menjadi jembatan—mengurai, menjelaskan, sekaligus menghidupkan kembali makna-makna yang terkandung dalam risalah agar lebih mudah dipahami lintas generasi dan lintas level kepemimpinan.

Lebih jauh, Evi Sofia Inayati menekankan bahwa langkah penyusunan syarah ini bukan hanya penting secara intelektual, tetapi juga strategis secara organisatoris. Ia membuka ruang bagi standardisasi pemahaman di tengah luasnya jejaring ‘Aisyiyah, sekaligus menjaga agar interpretasi terhadap risalah tetap berada dalam kerangka ideologi Islam berkemajuan.

Dalam perspektifnya, buku ini juga menjadi bagian dari upaya reproduksi kader ideologis. Syarah tidak hanya berbicara kepada akademisi, tetapi juga kepada kader—dari tingkat pusat hingga ranting—agar memiliki rujukan yang lebih operasional dalam menjalankan gerakan. Dengan demikian, syarah berfungsi sebagai medium transmisi nilai, bukan hanya teks penjelas.

Ia juga menyinggung pentingnya keberlanjutan dari inisiatif ini. Menurutnya, penerbitan buku harus diikuti dengan gerakan yang lebih luas: diskusi, pelatihan, hingga integrasi dalam kurikulum kaderisasi. Tanpa langkah-langkah tersebut, syarah berisiko kembali menjadi dokumen yang tidak sepenuhnya hidup.

Dengan nada yang tegas namun reflektif, Evi Sofia Inayati mengajak seluruh elemen ‘Aisyiyah untuk menjadikan buku ini sebagai titik awal, bukan akhir. Sebuah pintu masuk untuk memperkuat konsolidasi ideologis, sekaligus memperluas dampak gerakan perempuan berkemajuan dalam menjawab tantangan sosial, keumatan, dan kebangsaan.

Melalui sambutan ini, terlihat jelas bahwa Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan diposisikan bukan sekadar sebagai karya intelektual, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memastikan bahwa manifesto gerakan benar-benar hidup—dipahami, dijalankan, dan terus dikembangkan dalam realitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *