Yogyakarta — Di balik peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, terdapat satu penegasan penting yang mengarahkan makna acara ini secara lebih strategis: posisi kampus sebagai ruang produksi gagasan. Hal ini disampaikan secara kuat oleh Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat, dalam sambutannya.
Dalam pembukaan kegiatan, Dr. Warsiti menegaskan bahwa UNISA Yogyakarta tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan tinggi dalam pengertian konvensional, tetapi sebagai basis inkubasi gagasan-gagasan besar ‘Aisyiyah. Pernyataan ini bukan sekadar simbolik, melainkan mencerminkan arah kelembagaan yang secara sadar menempatkan kampus sebagai ruang hidup bagi lahirnya pemikiran strategis gerakan.
Menurutnya, buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan merupakan contoh konkret bagaimana gagasan ideologis dapat diproduksi, dikembangkan, dan disebarluaskan melalui ekosistem akademik. Kampus, dalam hal ini, tidak hanya menjadi konsumen wacana, tetapi produsen pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Lebih jauh, ia menggarisbawahi bahwa kekuatan sebuah gerakan tidak hanya terletak pada dokumen resminya, tetapi pada kemampuan untuk terus menafsirkan ulang, mengembangkan, dan mengontekstualisasikan gagasan tersebut sesuai dengan tantangan zaman. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial—sebagai ruang refleksi, kritik, sekaligus inovasi.
Penekanan ini juga sejalan dengan posisi UNISA sebagai bagian dari jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang memiliki tanggung jawab historis dalam mengembangkan pemikiran Islam berkemajuan. Dalam konteks ini, kehadiran buku syarah tidak hanya dilihat sebagai produk akademik, tetapi sebagai bagian dari proses panjang pembentukan epistemologi gerakan perempuan.
Sambutan Dr. Warsiti secara implisit juga menegaskan pentingnya integrasi antara nilai, ilmu, dan praksis. Kampus tidak boleh berhenti pada pengajaran, tetapi harus menjadi ruang di mana nilai-nilai ideologis diterjemahkan menjadi karya nyata—baik dalam bentuk riset, publikasi, maupun intervensi sosial.
Dengan demikian, peluncuran buku ini bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi menjadi penanda bagaimana UNISA Yogyakarta memposisikan diri: sebagai ruang strategis yang merawat, mengembangkan, dan menyebarluaskan gagasan perempuan berkemajuan. Sebuah posisi yang menuntut konsistensi—bahwa setiap karya yang lahir dari kampus harus memiliki relevansi sosial dan kontribusi nyata bagi gerakan dan masyarakat luas.



