Aisyiyah merupakan organisasi otonom bagi wanita Muhammadiyah yang dibentuk oleh Siti Walidah atau yang biasa dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan bersama dengan suaminya, Kiai Haji Ahmad Dahlan. Aisyiyah didirikan pada tanggal 19 Mei 1917 (27 Rajab 1335 H) di Yogyakarta. Organisasi ini terbentuk di waktu yang bersamaan dengan peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab 1335 H. Tujuan dibentuknya organisasi ini yaitu sebagai wadah pergerakan bagi kaum wanita Muhammadiyah. Pada awalnya, organisasi ini memiliki nama Sopo Tresno, yang memiliki makna literal ‘siapa suka atau siapa cinta’. Lahirnya Sopo Tresno digagasi oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan bersama istrinya, Nyai Ahmad Dahlan. Pada waktu itu, Sopo Tresno belum menjadi organisasi, hanya suatu forum pengajian untuk wanita,Continue Reading

Siti Aisyah Hilal termasuk salah satu puteri cemerlang Kiai Dahlan. Ia dilahirkan di tahun 1905, di Kauman Yogyakarta. Aisyah Hilal secara sengaja dikader dan dipersiapkan betul untuk meneruskan estafet kepemimpinan Aisyiyah. Ia melanjutkan kepemimpinan ibundanya Siti Walidah yang menggawangi Sapa Tresna. Meski tidak langsung menjadi ketua Aisyiyah periode pertama kali. Ia menjadi ketua Aisyiyah setelah Siti Bariyah. Siti Aisyah Hilal merupakan generasi kedua yang mengikuti anjuran bapaknya menempuh pendidikan di Neutral Meisjes School bersama Siti Zaenab, Siti Dauchah, Siti Dalalah, Siti Busyro, Siti Hayinah, dan Siti Badilah. Dahlan tidak ingin puteri-puterinya tertinggal dari aspek pendidikan. Dahlan sadar betul warisan yang berharga yang bisa ditinggalkan untuk puteri dan anak-anaknya adalah pendidikan atau bekal pengetahuan. Pembinaan terhadap gadis mudaContinue Reading

“Sudah tidak khilaf lagi bahwa damai, persatuan itulah suatu perkara, perkara mana tentulah semua manusia mengakui akan kebaikannya, karena memang persatuan ini adalah suatu alat yang dapat menghasilkan maksud yang besar” –Siti Hayinah 1928, dalam kongres perempuan pertama, duduk dua perempuan berkerudung diantara peserta kongres. Pertama berperawakan hitam manis, kedua perempuan bertubuh ramping dengan kulit kuning langsat. Dialah Siti Munjiyah dan Siti Hayinah. Keduanya duduk bersanding dengan R.A. Soekanto, Ismoediati (Wanita Oetomo), Soenarjati, Soejatin (Poetri Indonesia), Siti Soekaptinah (Jong Islamieten Bond), Nyai Hajar Dewantara (Taman Siswo), R.A. Harjadiningrat (Wanito Katholik), dan Moerjati (Jong Java). Dalam kongres ini, Siti Hayinah hadir menyampaikan pidato yang cukup fenomenal. Dia mengangkat isu persatuan dengan tema “Persatuan Manusia”. Menurutnya, persatuan merupakan alatContinue Reading

Siti Munjiyah (Ejaan Van Ophuijsen: Siti Moendjijah; lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta pada 1896 dan meninggal di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 1955) adalah tokoh Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah ke-16–20. Dia adalah anak keenam dari Haji Hasyim Ismail, sedangkan keluarganya dikenal dengan sebutan “Bani Hasyim Kauman”, yang menjadi pendukung gerakan Muhammadiyah. Munjiyah merupakan salah satu wanita generasi awal di Hindia Belanda yang mempunyai latar belakang pendidikan yang baik. Pendidikan yang diterimanya meliputi Madrasah Diniyah Ibtidaiyah, Sopo Tresno, dan Al-Qismul Arqo. Pendidikan tersebut memunculkan suatu kesadaran kritis dalam dirinya bahwa adat dalam kehidupan masyarakat saat itu menghambat pola kemajuan wanita. Partisipasinya dalam skala nasional adalah menjadi peserta Kongres Wanita Indonesia Pertama bersama dengan Siti Hayinah Mawardi, yang diadakanContinue Reading

Siti Bariyah (lahir di Kauman, Yogyakarta tahun 1905 – meninggal tidak diketahui) adalah salah satu murid perempuan K.H. Ahmad Dahlan.[1] Ia merupakan putri dari Lurah Haji Hasyim. Secara khusus, ia diminta oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk belajar di sekolah Belanda. Riwayat Hidup Siti Bariyah merupakan ketua pertama Aisyiyah. Ia lahir pada tahun 1325 H atau 1907 M. Ia merupakan putri dari Lurah Haji Hasyim dan masih bersaudara dengan Ki Bagus Hadikusuma, H.M. Sudja, H. Fachroddin dan Siti Munjiyah. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan nama Bani Hasyim.[2] Pernikahan Siti Bariyah menikah dengan Muhammad Wasim, putra K.H. Ibrahim yang masih merupakan adik Nyai Ahmad Dahlan atau ipar dari K.H. Ahmad Dahlan.[3] Pernikahan endogami merupakan kebiasaan yang lumrah diContinue Reading

Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah (3 Januari 1872 – 31 Mei 1946) adalah tokoh emansipasi perempuan, istri dari pendiri organisasi Muhammadiyah, Ahmad Dahlan dan juga seorang pahlawan nasional Indonesia. Biografi Nyai Ahmad Dahlan lahir dengan nama Siti Walidah di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872. Ia adalah putri dari Kyai Haji Muhammad Fadli, seorang ulama dan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta; yang menjadi daerah bertempat tinggal dari para tokoh agama dari keraton. Dia bersekolah di rumah, diajarkan berbagai aspek tentang Islam, termasuk bahasa Arab dan Al-Qur’an. Dia membaca Al-Qur’an dalam naskah Jawi. Nyai Ahmad Dahlan menikah dengan sepupunya, Ahmad Dahlan. Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Nyai mengikuti suaminya dalam perjalanannya. Namun, karena beberapa dariContinue Reading