Across many contexts, women’s bodies remain contested spaces—regulated by policy, shaped by culture, and interpreted through layers of religious and scientific discourse. Decisions about health are rarely neutral; they are entangled with access, knowledge, and power. From reproductive health to mental wellbeing, what appears as a personal matter often reflects broader structural conditions. As ICAS 2026 approaches, the question of women’s health cannot be treated as a technical issue alone. It demands a deeper reflection: how do we understand the body—not only as a biological entity, but as a site where dignity, faith, and social realities intersect? Beyond Biomedical Reductionism Modern healthcare systems have achieved remarkable advances, yet they often operate within a framework that isolates theContinue Reading

Ada satu keyakinan yang begitu mapan di dunia pendidikan tinggi: bahwa kampus adalah ruang netral. Ia dianggap sebagai tempat bertemunya berbagai gagasan secara bebas, di mana kebenaran dicari melalui argumen, bukan ditentukan oleh posisi sosial. Namun, keyakinan ini perlu dipertanyakan. Sebab dalam praktiknya, kampus tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berada dalam jejaring nilai, kepentingan, dan struktur kuasa—yang menentukan apa yang dianggap penting, siapa yang didengar, dan pengalaman siapa yang layak dijadikan pengetahuan. Dalam lanskap ini, pengalaman perempuan sering kali hadir bukan sebagai pusat, melainkan sebagai tambahan. Ia diakui, tetapi tidak selalu menentukan. Banyak pengetahuan yang diproduksi di kampus masih berangkat dari perspektif yang menganggap laki-laki sebagai standar universal, sementara perempuan menjadi “variasi” dari standar tersebut. Akibatnya,Continue Reading

In many contemporary spaces, young Muslim women are speaking with a different kind of confidence. They move fluidly between identities—religious, digital, professional—without always feeling the need to resolve them into a single narrative. Their expressions are shaped as much by global flows of information as by local traditions, creating a hybridity that is both dynamic and, at times, unsettling for established frameworks. As ICAS 2026 approaches, their presence is not incidental. It raises a critical question: will the next generation simply inherit existing movements, or will they redefine them altogether? From Inheritance to Reinvention Every movement carries a legacy, but it is never transmitted unchanged. Younger generations do not receive ideas passively; they interpret, adapt, and sometimesContinue Reading

Ada satu perubahan mendasar yang sering luput kita sadari: otoritas keagamaan tidak lagi terutama ditentukan oleh kedalaman ilmu, melainkan oleh visibilitas. Siapa yang paling sering muncul di layar, siapa yang paling banyak dibagikan, dan siapa yang paling “nyambung” dengan logika platform—dialah yang didengar. Dalam situasi ini, pertanyaan tentang siapa yang berhak berbicara atas nama agama tidak hilang, tetapi berubah medan. Ia kini dipertarungkan di ruang algoritma. Dan di ruang ini, perempuan tidak hanya masuk—mereka dinegosiasikan. Selama ini, perempuan kerap dibatasi dalam struktur otoritas keagamaan formal. Akses terhadap mimbar, forum keilmuan, hingga posisi otoritatif tidak selalu terbuka secara setara. Era digital, pada pandangan pertama, tampak sebagai pembebasan. Perempuan dapat berbicara, mengajar, dan menyebarkan pengetahuan tanpa harus menunggu legitimasiContinue Reading

Long before formal meetings begin and after they end, there is another layer of work quietly unfolding—preparing food, caring for children, checking on family members, sustaining emotional connections. This labor rarely appears in conference programs, yet it forms the invisible infrastructure that allows participation to happen at all. For many women, leadership is never detached from care. It is embedded within it. As ICAS 2026 approaches, an important question surfaces: what kinds of work actually sustain women’s leadership, and why are they so often overlooked? Beyond Formal Economies Mainstream economic frameworks tend to prioritize measurable outputs—income, productivity, growth. Within these metrics, large portions of women’s labor remain undervalued or entirely invisible. Care work, community organizing, and informalContinue Reading

Ada satu asumsi yang terlalu lama dibiarkan: bahwa perempuan adalah pihak yang paling menderita dalam setiap krisis. Kalimat ini terdengar simpatik, tetapi diam-diam problematis. Ia menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan, bukan subjek perubahan. Dalam narasi semacam ini, perempuan selalu hadir di hilir—sebagai yang terdampak, bukan yang menentukan arah. Editorial ini memilih untuk tidak melanjutkan kenyamanan asumsi tersebut. Sebab, selama perempuan terus dibaca sebagai korban, kita kehilangan keberanian untuk melihatnya sebagai penentu masa depan. Krisis peradaban hari ini—ekologis, ekonomi, hingga moral—bukan sekadar peristiwa eksternal yang “menimpa” manusia. Ia adalah hasil dari cara kita membangun dunia: eksploitatif, hierarkis, dan sering kali maskulin dalam logika kuasanya. Ketika alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditaklukkan, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tujuan tanpaContinue Reading

Scroll through any social media platform and a pattern emerges—not always obvious, but deeply influential. Certain voices are amplified, others fade into obscurity. What appears as organic visibility is often the result of algorithmic selection. In this digital landscape, narratives are not only produced by humans, but also curated—ranked, filtered, and distributed by systems that remain largely opaque. For Muslim women engaging in da‘wah, education, and advocacy, this environment presents both opportunity and challenge. The digital sphere offers unprecedented reach, yet it also introduces new forms of control. As ICAS 2026 approaches, the question becomes unavoidable: who truly shapes the narrative in the age of algorithms? From Pulpit to Platform Da‘wah has long been associated with physicalContinue Reading