Keluarga sering dipahami sebagai ruang paling privat dalam kehidupan manusia—tempat nilai ditanamkan, kasih sayang dirawat, dan identitas dibentuk. Namun, di balik kesan privat itu, keluarga sesungguhnya adalah ruang yang sangat publik dalam dampaknya. Apa yang terjadi di dalamnya tidak pernah berhenti di dalamnya. Ia direproduksi, diwariskan, dan menjadi fondasi bagi cara sebuah masyarakat bekerja. Dalam konteks ini, perempuan hampir selalu berada di pusat—tetapi tidak selalu dalam posisi yang menentukan. Selama ini, perempuan ditempatkan sebagai “penjaga keluarga.” Ia diharapkan menjadi pendidik pertama, pengelola emosi, sekaligus penjaga moral. Narasi ini tampak mulia, tetapi perlu dibaca secara kritis. Sebab dalam banyak kasus, peran ini tidak disertai dengan distribusi kuasa yang setara. Perempuan memikul tanggung jawab besar dalam keluarga, tetapi tidakContinue Reading

Kemandirian ekonomi perempuan sering dipresentasikan sebagai solusi atas berbagai bentuk ketidakadilan. Perempuan yang memiliki penghasilan dianggap lebih berdaya, lebih mandiri, dan lebih mampu menentukan hidupnya sendiri. Narasi ini tidak sepenuhnya salah. Namun, jika tidak dibaca secara kritis, ia bisa berubah menjadi ilusi—seolah-olah akses terhadap ekonomi otomatis berarti kebebasan yang utuh. Dalam banyak kasus, perempuan memang masuk ke ruang ekonomi dengan lebih luas dibandingkan sebelumnya. Mereka bekerja, berwirausaha, bahkan memimpin sektor-sektor penting. Namun, pertanyaannya: apakah kehadiran ini selalu diiringi dengan perubahan relasi kuasa? Ataukah perempuan hanya dipindahkan dari satu bentuk ketergantungan ke bentuk lain yang lebih halus? Kita melihat bagaimana perempuan sering kali memikul beban ganda—produktif di ruang publik, tetapi tetap bertanggung jawab penuh di ruang domestik. KemandirianContinue Reading

In many parts of the world, difference is not an abstract concept—it is lived daily. Neighbors belong to different faiths, students share classrooms across traditions, and communities negotiate coexistence in ways that are often fragile yet deeply meaningful. These encounters do not always produce harmony; at times, they expose tension, misunderstanding, and even conflict. As ICAS 2026 approaches, the question is not whether plurality exists, but how it is lived. Can difference become a foundation for ethical engagement, rather than a source of division? Plurality as Reality, Not Exception Plurality is sometimes treated as a challenge to be managed, rather than a reality to be embraced. Yet historical and contemporary Muslim societies have long navigated diversity inContinue Reading

Ada satu keyakinan klasik yang sering diulang: bahwa mendidik perempuan berarti mendidik peradaban. Kalimat ini terdengar ideal, bahkan inspiratif. Namun, ia juga perlu ditantang. Sebab pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan penting dalam pendidikan, tetapi pendidikan seperti apa yang sedang dibentuk—dan siapa yang sebenarnya menentukan arah itu. Dalam banyak konteks, perempuan memang hadir sebagai subjek pendidikan—sebagai siswa, mahasiswa, bahkan pendidik. Namun, kehadiran ini tidak selalu berarti kontrol atas arah pendidikan itu sendiri. Kurikulum, metode, dan nilai yang diajarkan sering kali tetap ditentukan oleh struktur yang tidak sepenuhnya sensitif terhadap pengalaman perempuan. Akibatnya, perempuan dididik untuk berhasil dalam sistem, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk mengubahnya. Di sinilah paradoks itu muncul. Perempuan didorong untuk menjadi agen perubahan, tetapi dibentukContinue Reading

Ada satu wilayah yang hampir selalu menjadi titik temu antara agama, budaya, dan kekuasaan: tubuh perempuan. Ia bukan sekadar entitas biologis, tetapi medan di mana norma dirumuskan, moralitas ditegakkan, dan kontrol sosial dijalankan. Dalam banyak situasi, perdebatan tentang agama tidak benar-benar berangkat dari teks atau prinsip, melainkan dari bagaimana tubuh perempuan harus ditampilkan, diatur, dan dinilai. Tubuh perempuan, dalam konteks ini, jarang dibiarkan menjadi miliknya sendiri. Ia selalu berada dalam pengawasan—baik yang halus maupun yang terang-terangan. Cara berpakaian, cara bergerak, hingga cara mengekspresikan diri menjadi objek regulasi sosial yang terus-menerus. Menariknya, kontrol ini sering kali dibungkus dengan bahasa moral dan agama, seolah-olah ia merupakan keharusan normatif yang tidak bisa dipertanyakan. Di sinilah persoalan menjadi kompleks. Agama, yangContinue Reading

In many societies, law is presented as a neutral framework—designed to protect, regulate, and ensure order. Yet for women, especially in diverse Muslim contexts, legal systems often operate with ambivalence. They can offer protection, but they can also limit participation. They can recognize rights, yet still reproduce inequalities. As ICAS 2026 approaches, the question is not simply how women are positioned within legal systems, but whether those systems themselves can be reimagined. Can justice move beyond formal guarantees toward lived realities? Law as Lived Experience Legal texts often promise equality, but their implementation reveals gaps. Access to justice is shaped by social norms, economic resources, and institutional practices. For many women, navigating the legal system involves moreContinue Reading

Ada kecenderungan yang semakin terlihat dalam banyak gerakan sosial hari ini: semangat yang tinggi tidak selalu diikuti oleh kedalaman pengetahuan. Isu diangkat dengan cepat, slogan disebarkan dengan luas, tetapi refleksi sering kali tertinggal. Dalam konteks gerakan perempuan, situasi ini menjadi lebih problematis. Sebab ketika perjuangan tidak ditopang oleh kerangka pengetahuan yang kokoh, ia berisiko mengulang apa yang ingin ia lawan—meski dengan bahasa yang berbeda. Kita menyaksikan bagaimana berbagai isu tentang perempuan—ketidakadilan, kekerasan, marginalisasi—menjadi bagian dari diskursus publik yang semakin ramai. Ini tentu perkembangan penting. Namun, pertanyaannya: apakah keramaian ini selalu berbanding lurus dengan kejernihan? Dalam banyak kasus, narasi yang beredar justru bersifat simplifikatif, reaktif, dan terfragmentasi. Kompleksitas persoalan direduksi menjadi dikotomi, dan solusi dipersempit menjadi respons sesaat.Continue Reading