Perubahan demografis global yang ditandai dengan meningkatnya populasi lanjut usia juga terjadi secara signifikan di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mengalami peningkatan angka harapan hidup yang diikuti dengan pertumbuhan jumlah penduduk lansia yang cukup pesat. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait dengan sistem perawatan jangka panjang, kualitas hidup lansia, serta dukungan sosial yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat yang sama, perubahan sosial seperti urbanisasi, mobilitas tenaga kerja, dan transformasi struktur keluarga dari model keluarga besar menuju keluarga inti telah memengaruhi pola perawatan terhadap lansia. Banyak lansia yang kini hidup dalam kondisi yang relatif lebih mandiri namun juga lebih rentan terhadap isolasi sosial dan kesepian. Situasi ini menimbulkan kebutuhan baru akan pendekatan perawatan yang tidak hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga pada dimensi psikososial, relasional, dan eksistensial dari proses menua.
Dalam konteks tersebut, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan membuka peluang baru untuk mendukung kualitas hidup lansia. Teknologi tidak lagi sekadar dipahami sebagai alat medis atau perangkat monitoring kesehatan, tetapi juga berpotensi menjadi medium yang membantu menjaga konektivitas sosial, kontinuitas identitas, serta rasa kehadiran dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, memahami dinamika penuaan populasi di Indonesia menjadi penting sebagai dasar untuk merumuskan pendekatan perawatan yang adaptif terhadap perubahan sosial sekaligus responsif terhadap perkembangan teknologi.
1. Penuaan Populasi di Indonesia
Indonesia sedang memasuki fase aging society. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2023 jumlah penduduk lanjut usia (≥60 tahun) mencapai sekitar 29,3 juta jiwa atau sekitar 10,48% dari total populasi. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2010 yang hanya sekitar 7,6%.
Proyeksi demografis memperkirakan bahwa pada tahun 2045, proporsi lansia di Indonesia dapat mencapai 19–20% dari populasi nasional, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi lansia terbesar di Asia Tenggara.
Peningkatan angka harapan hidup juga memperkuat tren ini. Menurut World Health Organization, harapan hidup masyarakat Indonesia telah meningkat dari sekitar 63 tahun pada awal 1990-an menjadi lebih dari 71 tahun pada tahun 2021.
Peningkatan usia harapan hidup ini berarti semakin banyak individu yang hidup lebih lama dengan kondisi penyakit kronis atau keterbatasan fungsional, sehingga kebutuhan terhadap perawatan jangka panjang semakin meningkat.
2. Penyakit Kronis pada Lansia
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa penyakit tidak menular menjadi penyebab utama masalah kesehatan pada lansia.
Beberapa prevalensi penyakit kronis pada kelompok usia lanjut antara lain:
- Hipertensi: sekitar 63–65% pada kelompok usia ≥60 tahun
- Diabetes melitus: sekitar 20% pada lansia perkotaan
- Penyakit jantung: meningkat signifikan pada usia di atas 60 tahun
- Stroke: menjadi salah satu penyebab disabilitas tertinggi pada lansia
Penyakit kronis tersebut seringkali tidak langsung menyebabkan kematian, tetapi menciptakan kondisi kerentanan jangka panjang yang membutuhkan dukungan medis, sosial, dan emosional secara berkelanjutan.
Dalam konteks ini, palliative care tidak lagi terbatas pada penyakit terminal, tetapi semakin dipahami sebagai pendekatan untuk mengelola kehidupan dengan penyakit kronis dalam jangka panjang.
3. Kesepian dan Isolasi Sosial Lansia
Selain masalah kesehatan fisik, lansia juga menghadapi tantangan psikososial yang signifikan. Perubahan struktur keluarga, urbanisasi, serta migrasi tenaga kerja menyebabkan semakin banyak lansia yang hidup terpisah dari anak-anak mereka.
Studi tentang kesejahteraan lansia di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 30–40% lansia di wilayah perkotaan melaporkan perasaan kesepian atau kurangnya interaksi sosial yang bermakna (Suriastini et al., 2020).
Kesepian ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga berkorelasi dengan peningkatan risiko:
- depresi
- gangguan kognitif
- penurunan kualitas hidup
- mortalitas dini
Meta-analisis oleh Holt-Lunstad et al. (2015) bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial dapat meningkatkan risiko kematian hingga 26%, menjadikannya salah satu faktor risiko kesehatan yang signifikan.
4. Kesenjangan Sistem Perawatan Jangka Panjang
Sistem perawatan lansia di Indonesia masih sangat bergantung pada keluarga. Berbeda dengan banyak negara maju yang memiliki sistem long-term care, sebagian besar lansia Indonesia masih mengandalkan dukungan keluarga inti.
Namun, perubahan sosial seperti:
- urbanisasi
- mobilitas kerja
- meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja
membuat model perawatan berbasis keluarga semakin sulit dipertahankan secara penuh.
Menurut laporan World Health Organization tentang Healthy Ageing, banyak negara berkembang menghadapi tantangan serupa: meningkatnya kebutuhan perawatan lansia tanpa infrastruktur sosial yang memadai.
Dalam situasi ini, teknologi digital—termasuk kecerdasan buatan—mulai dilihat sebagai potensi infrastruktur pendukung untuk menjaga kesehatan, konektivitas sosial, dan kualitas hidup lansia.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik penduduk lanjut usia 2023. Badan Pusat Statistik.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., Baker, M., Harris, T., & Stephenson, D. (2015). Loneliness and social isolation as risk factors for mortality: A meta-analytic review. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 227–237. https://doi.org/10.1177/1745691614568352
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan nasional Riskesdas 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Suriastini, W., Turana, Y., Witoelar, F., & Sikoki, B. (2020). Health and well-being of the elderly in Indonesia: Evidence from the Indonesian Family Life Survey. Journal of Aging and Health, 32(7–8), 1034–1046.
United Nations Department of Economic and Social Affairs. (2022). World population prospects 2022. United Nations.
World Health Organization. (2021). Decade of healthy ageing: Baseline report. World Health Organization.
World Health Organization. (2020). Palliative care. World Health Organization.



