Perubahan demografis global menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki era penuaan populasi. Meningkatnya angka harapan hidup menyebabkan semakin banyak individu yang menjalani masa tua dalam jangka waktu yang lebih panjang, seringkali disertai dengan penyakit kronis, keterbatasan fisik, serta tantangan psikososial seperti kesepian dan isolasi sosial. Kondisi ini juga mulai terlihat di Indonesia, di mana proporsi penduduk lanjut usia terus meningkat seiring dengan perubahan struktur keluarga, urbanisasi, dan mobilitas sosial.
Dalam situasi tersebut, pendekatan perawatan lansia tidak lagi cukup berfokus pada aspek medis semata. Selain dukungan kesehatan, lansia juga membutuhkan kehadiran relasional yang mampu menjaga rasa makna, martabat, dan kontinuitas kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), membuka peluang baru untuk mendukung kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat berperan tidak hanya sebagai alat kesehatan, tetapi juga sebagai medium yang membantu menemani proses menua secara lebih bermakna di tengah masyarakat yang semakin terdigitalisasi.
1. Transformasi Demografis dan Masa Depan Palliative Care
Dunia sedang memasuki era penuaan populasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA, 2022), jumlah penduduk berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat secara global, dari sekitar 761 juta pada tahun 2021 menjadi lebih dari 1,6 miliar pada tahun 2050. Pada periode yang sama, kelompok usia 80 tahun ke atas menjadi populasi dengan pertumbuhan tercepat.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO, 2021) melalui Decade of Healthy Ageing 2021–2030 menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya memperpanjang usia hidup, tetapi memastikan kualitas hidup yang bermartabat. WHO mencatat bahwa kesepian dan isolasi sosial pada lansia berkorelasi dengan peningkatan risiko demensia, depresi, penyakit kardiovaskular, serta mortalitas dini.
Dalam konteks Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa proporsi lansia terus meningkat seiring dengan pergeseran struktur demografi menuju aging population. Urbanisasi yang masif, migrasi tenaga kerja, serta perubahan struktur keluarga dari extended family menuju nuclear family memperbesar kemungkinan lansia hidup sendiri dalam jangka waktu yang panjang.
Situasi ini menempatkan palliative care dalam posisi strategis. Namun, palliative care sering kali dipahami secara sempit sebagai perawatan menjelang kematian. Padahal, menurut definisi WHO (2020), palliative care adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi masalah terkait penyakit yang mengancam jiwa melalui pencegahan dan pengurangan penderitaan, baik fisik, psikososial, maupun spiritual.
Dengan meningkatnya angka harapan hidup dan prevalensi penyakit kronis, palliative care tidak lagi terbatas pada fase akhir kehidupan, melainkan menjadi bagian dari proses hidup jangka panjang dalam kondisi kerentanan (living with vulnerability).
2. Kesepian sebagai Krisis Eksistensial dalam Penuaan
Kesepian lansia telah diakui sebagai isu kesehatan publik global. Studi meta-analitik oleh Holt-Lunstad et al. (2015) menunjukkan bahwa isolasi sosial dan kesepian meningkatkan risiko kematian sebesar 26–32%, angka yang sebanding dengan faktor risiko kesehatan utama lainnya.
Namun, reduksi kesepian menjadi sekadar kurangnya interaksi sosial cenderung menyederhanakan problem. Dalam perspektif psikologi perkembangan dan aging studies, kesepian pada lansia berkaitan erat dengan hilangnya peran sosial, identitas, dan rasa kebermaknaan hidup (Carstensen, 1992; Tornstam, 2005). Konsep continuity theory (Atchley, 1989) menekankan pentingnya kesinambungan identitas dalam menjaga kesejahteraan psikologis pada usia lanjut.
Selain itu, dalam kerangka ethics of care (Gilligan, 1982; Tronto, 1993), perawatan bukan hanya tindakan teknis, melainkan relasi yang melibatkan perhatian (attentiveness), tanggung jawab (responsibility), dan responsivitas. Ketika relasi manusia berkurang akibat urbanisasi dan mobilitas, muncul pertanyaan: apakah teknologi dapat berfungsi sebagai medium relasional tanpa menggantikan kemanusiaan itu sendiri?
3. Kecerdasan Buatan dalam Perawatan Lansia: Antara Efisiensi dan Makna
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam layanan kesehatan meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. AI telah digunakan untuk:
- deteksi dini penyakit kronis
- monitoring kesehatan berbasis sensor
- pengingat obat
- robot sosial untuk companionship
Penelitian di bidang socially assistive robotics (Feil-Seifer & Matarić, 2005) dan AI companion systems menunjukkan bahwa kehadiran entitas non-manusia dapat memberikan dampak psikologis positif pada lansia tertentu. Namun, sebagian besar pengembangan teknologi ini berorientasi pada performa teknis dan efisiensi klinis, bukan pada dimensi naratif dan eksistensial.
Dalam kajian human–AI interaction, Turkle (2011) memperingatkan bahwa teknologi yang mensimulasikan empati berisiko menciptakan “relasi semu” (relational artifacts) jika tidak dirancang dengan kesadaran etis. Di sisi lain, pendekatan posthuman dan relasional (Haraway, 2016; Braidotti, 2013) membuka kemungkinan membaca teknologi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari jaringan relasi yang membentuk pengalaman manusia.
Dengan demikian, pertanyaan utama bukan lagi apakah AI dapat membantu lansia secara teknis, tetapi:
Bagaimana AI membentuk ulang pengalaman menemani, menyaksikan, dan menjaga martabat dalam proses menua?
4. Celah Penelitian (Research Gap)
Meskipun literatur tentang AI dan perawatan lansia berkembang pesat, terdapat beberapa celah penting:
- Dominasi pendekatan teknosentris yang mengukur efektivitas berdasarkan parameter klinis, bukan pengalaman hidup.
- Minimnya studi tentang AI sebagai aktor relasional dalam konteks palliative care jangka panjang.
- Kurangnya eksplorasi mengenai makna kesepian sebagai pengalaman eksistensial, bukan sekadar defisit sosial.
- Terbatasnya kajian dalam konteks Global South dan masyarakat religius, di mana nilai keluarga dan spiritualitas memiliki peran signifikan dalam memaknai sakit dan menua.
Generasi yang akan menjadi lansia dalam dua dekade mendatang adalah generasi yang telah hidup bersama teknologi digital. Oleh karena itu, penelitian tentang AI dalam palliative care harus bersifat prospektif dan reflektif, bukan sekadar evaluatif terhadap lansia masa kini.
5. Posisi dan Kontribusi Penelitian
Penelitian ini berangkat dari premis bahwa:
AI tidak diposisikan sebagai solusi pengganti relasi manusia, tetapi sebagai infrastruktur kehadiran yang menopang kontinuitas narasi hidup dan martabat dalam situasi kerentanan jangka panjang.
Dengan memadukan pendekatan ethics of care, aging studies, dan kajian relasi manusia–AI, penelitian ini berupaya:
- Menggeser paradigma dari AI sebagai alat medis menuju AI sebagai medium relasional.
- Menawarkan model desain teknologi berbasis narasi dan makna hidup.
- Mengembangkan kerangka etis untuk palliative care berbasis AI dalam konteks urban dan religius.
6. Penutup
Penuaan populasi dan fragmentasi relasi sosial merupakan realitas yang tak terelakkan. Kecerdasan buatan akan semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Tantangan mendesak bukan sekadar bagaimana membuat teknologi lebih cerdas, melainkan bagaimana memastikan bahwa dalam proses tersebut, pengalaman menjadi tua tetap manusiawi, bermakna, dan bermartabat.
Jika kehadiran dapat didelegasikan kepada mesin, maka riset ini bertanya:
Apa arti merawat dan ditemani dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi?
Referensi Kunci
- Atchley, R. C. (1989). A continuity theory of normal aging. The Gerontologist, 29(2), 183–190. https://doi.org/10.1093/geront/29.2.183
- Badan Pusat Statistik. (2023). Statistik penduduk lanjut usia 2023. Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id
- Braidotti, R. (2013). The posthuman. Polity Press.
- Carstensen, L. L. (1992). Social and emotional patterns in adulthood: Support for socioemotional selectivity theory. Psychology and Aging, 7(3), 331–338. https://doi.org/10.1037/0882-7974.7.3.331
- Feil-Seifer, D., & Matarić, M. J. (2005). Defining socially assistive robotics. In Proceedings of the 9th International Conference on Rehabilitation Robotics (ICORR) (pp. 465–468). IEEE. https://doi.org/10.1109/ICORR.2005.1501143
- Gilligan, C. (1982). In a different voice: Psychological theory and women’s development. Harvard University Press.
- Haraway, D. J. (2016). Staying with the trouble: Making kin in the Chthulucene. Duke University Press.
- Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., Baker, M., Harris, T., & Stephenson, D. (2015). Loneliness and social isolation as risk factors for mortality: A meta-analytic review. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 227–237. https://doi.org/10.1177/1745691614568352
- Tronto, J. C. (1993). Moral boundaries: A political argument for an ethic of care. Routledge.
- Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books.
- United Nations, Department of Economic and Social Affairs, Population Division. (2022). World population prospects 2022: Summary of results. United Nations. https://www.un.org/development/desa/pd/
- World Health Organization. (2020). Palliative care. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/palliative-care
- World Health Organization. (2021). Decade of healthy ageing: Baseline report. World Health Organization. https://www.who.int/initiatives/decade-of-healthy-ageing



