Ada satu asumsi yang terlalu lama dibiarkan: bahwa perempuan adalah pihak yang paling menderita dalam setiap krisis. Kalimat ini terdengar simpatik, tetapi diam-diam problematis. Ia menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan, bukan subjek perubahan. Dalam narasi semacam ini, perempuan selalu hadir di hilir—sebagai yang terdampak, bukan yang menentukan arah. Editorial ini memilih untuk tidak melanjutkan kenyamanan asumsi tersebut. Sebab, selama perempuan terus dibaca sebagai korban, kita kehilangan keberanian untuk melihatnya sebagai penentu masa depan. Krisis peradaban hari ini—ekologis, ekonomi, hingga moral—bukan sekadar peristiwa eksternal yang “menimpa” manusia. Ia adalah hasil dari cara kita membangun dunia: eksploitatif, hierarkis, dan sering kali maskulin dalam logika kuasanya. Ketika alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditaklukkan, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tujuan tanpaContinue Reading

Di tengah arus zaman yang bergerak cepat—ditandai oleh krisis ekologis, disrupsi teknologi, dan fragmentasi sosial—perbincangan tentang perempuan seringkali terjebak dalam dua kutub: antara glorifikasi simbolik dan reduksi praktis. Perempuan dipuji sebagai “pilar peradaban”, tetapi dalam kenyataan, suara dan perannya kerap dipinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis. Dalam konteks ini, Risalah Perempuan Berkemajuan hadir bukan sekadar sebagai dokumen normatif, tetapi sebagai arah ideologis yang menuntut pembacaan ulang, penghayatan, dan terutama penghidupan dalam realitas. Namun, setiap risalah memiliki keterbatasannya: ia padat, normatif, dan seringkali berbicara dalam bahasa prinsip. Ia memerlukan jembatan agar dapat menjangkau ruang praksis yang konkret. Di sinilah pentingnya syarah. Dalam tradisi keilmuan Islam, syarah bukan sekadar penjelasan; ia adalah bentuk dialog intelektual lintas waktu—upaya menghidupkan teks agarContinue Reading

Perubahan demografis global yang ditandai dengan meningkatnya populasi lanjut usia juga terjadi secara signifikan di Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mengalami peningkatan angka harapan hidup yang diikuti dengan pertumbuhan jumlah penduduk lansia yang cukup pesat. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial, tetapi juga menghadirkan tantangan baru terkait dengan sistem perawatan jangka panjang, kualitas hidup lansia, serta dukungan sosial yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat yang sama, perubahan sosial seperti urbanisasi, mobilitas tenaga kerja, dan transformasi struktur keluarga dari model keluarga besar menuju keluarga inti telah memengaruhi pola perawatan terhadap lansia. Banyak lansia yang kini hidup dalam kondisi yang relatif lebih mandiri namun juga lebih rentan terhadap isolasiContinue Reading

Perubahan demografis global menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki era penuaan populasi. Meningkatnya angka harapan hidup menyebabkan semakin banyak individu yang menjalani masa tua dalam jangka waktu yang lebih panjang, seringkali disertai dengan penyakit kronis, keterbatasan fisik, serta tantangan psikososial seperti kesepian dan isolasi sosial. Kondisi ini juga mulai terlihat di Indonesia, di mana proporsi penduduk lanjut usia terus meningkat seiring dengan perubahan struktur keluarga, urbanisasi, dan mobilitas sosial. Dalam situasi tersebut, pendekatan perawatan lansia tidak lagi cukup berfokus pada aspek medis semata. Selain dukungan kesehatan, lansia juga membutuhkan kehadiran relasional yang mampu menjaga rasa makna, martabat, dan kontinuitas kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), membuka peluang baru untuk mendukung kebutuhan tersebut. Oleh karenaContinue Reading