Perempuan Berkemajuan di Tengah Krisis Peradaban
Ada satu asumsi yang terlalu lama dibiarkan: bahwa perempuan adalah pihak yang paling menderita dalam setiap krisis. Kalimat ini terdengar simpatik, tetapi diam-diam problematis. Ia menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan, bukan subjek perubahan. Dalam narasi semacam ini, perempuan selalu hadir di hilir—sebagai yang terdampak, bukan yang menentukan arah. Editorial ini memilih untuk tidak melanjutkan kenyamanan asumsi tersebut. Sebab, selama perempuan terus dibaca sebagai korban, kita kehilangan keberanian untuk melihatnya sebagai penentu masa depan. Krisis peradaban hari ini—ekologis, ekonomi, hingga moral—bukan sekadar peristiwa eksternal yang “menimpa” manusia. Ia adalah hasil dari cara kita membangun dunia: eksploitatif, hierarkis, dan sering kali maskulin dalam logika kuasanya. Ketika alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditaklukkan, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tujuan tanpaContinue Reading




