Mendidik Perempuan, Membentuk Peradaban: Siapa yang Menentukan Masa Depan?

Ada satu keyakinan klasik yang sering diulang: bahwa mendidik perempuan berarti mendidik peradaban. Kalimat ini terdengar ideal, bahkan inspiratif. Namun, ia juga perlu ditantang. Sebab pertanyaannya bukan lagi apakah perempuan penting dalam pendidikan, tetapi pendidikan seperti apa yang sedang dibentuk—dan siapa yang sebenarnya menentukan arah itu.

Dalam banyak konteks, perempuan memang hadir sebagai subjek pendidikan—sebagai siswa, mahasiswa, bahkan pendidik. Namun, kehadiran ini tidak selalu berarti kontrol atas arah pendidikan itu sendiri. Kurikulum, metode, dan nilai yang diajarkan sering kali tetap ditentukan oleh struktur yang tidak sepenuhnya sensitif terhadap pengalaman perempuan. Akibatnya, perempuan dididik untuk berhasil dalam sistem, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk mengubahnya.

Di sinilah paradoks itu muncul. Perempuan didorong untuk menjadi agen perubahan, tetapi dibentuk dalam kerangka yang membatasi kemungkinan perubahan itu. Mereka diajarkan untuk berpikir kritis, tetapi dalam batas-batas tertentu. Mereka didorong untuk berprestasi, tetapi tetap harus menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial yang tidak selalu adil. Pendidikan, dalam bentuk ini, menjadi proses adaptasi—bukan transformasi.

Jika kita melihat lebih jauh, pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu membawa nilai tentang apa yang dianggap penting, siapa yang dianggap layak, dan masa depan seperti apa yang diinginkan. Ketika perspektif perempuan tidak menjadi bagian dari proses penentuan ini, maka masa depan yang dibangun cenderung mengulang pola lama—dengan wajah yang lebih modern, tetapi dengan logika yang sama.

Islam berkemajuan menawarkan pendekatan yang berbeda. Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai transfer pengetahuan, tetapi sebagai pembentukan manusia yang utuh—yang mampu berpikir, bertindak, dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan. Dalam kerangka ini, perempuan tidak hanya dididik untuk “menjadi baik,” tetapi untuk memahami, mempertanyakan, dan membentuk dunia di sekitarnya. Ini adalah pendidikan yang tidak hanya mencetak individu, tetapi juga membangun kesadaran.

Namun, tantangan terbesar hari ini bukan hanya pada isi pendidikan, tetapi juga pada konteksnya. Generasi yang kita hadapi hidup dalam dunia yang sangat berbeda—dunia digital yang cepat, terfragmentasi, dan penuh distraksi. Pengetahuan tidak lagi datang dari satu sumber, tetapi dari banyak arah yang tidak selalu terverifikasi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan perempuan tidak cukup hanya fokus pada akses, tetapi juga pada kemampuan untuk memilah, memahami, dan memproduksi pengetahuan.

Di titik ini, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis. Mereka tidak hanya menjadi penerima pendidikan, tetapi juga pembentuk lingkungan belajar—baik dalam keluarga, komunitas, maupun institusi formal. Namun, potensi ini sering kali tidak sepenuhnya diakui. Perempuan masih lebih sering dilihat sebagai pelaksana pendidikan, bukan sebagai penentu arah epistemologisnya.

Kita juga perlu mengakui bahwa pendidikan sering kali dibebani dengan harapan yang tidak realistis. Ia dianggap sebagai solusi untuk berbagai persoalan sosial, tanpa diiringi perubahan struktural yang memadai. Dalam konteks perempuan, ini berarti bahwa pendidikan diharapkan mampu mengatasi ketidakadilan, tanpa benar-benar mengubah struktur yang melanggengkan ketidakadilan itu sendiri. Akibatnya, perempuan terus didorong untuk beradaptasi, sementara sistem tetap relatif tidak berubah.

Karena itu, membicarakan pendidikan perempuan tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan tentang kekuasaan: siapa yang menentukan kurikulum, siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya, dan siapa yang diakui sebagai produsen pengetahuan. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, pendidikan akan terus menjadi ruang yang tampak terbuka, tetapi sebenarnya terbatas.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan hanya oleh siapa yang dididik, tetapi oleh siapa yang menentukan arah pendidikan itu sendiri. Jika perempuan hanya menjadi objek dalam sistem pendidikan, maka peradaban yang dihasilkan akan terus mencerminkan keterbatasan sistem tersebut. Tetapi jika perempuan hadir sebagai subjek—yang mampu berpikir, menentukan, dan bertindak—maka pendidikan bisa menjadi ruang transformasi yang sesungguhnya.

Editorial ini mengajak kita untuk melampaui narasi lama tentang pentingnya pendidikan perempuan, menuju pertanyaan yang lebih mendasar: apakah perempuan benar-benar memiliki kuasa dalam menentukan masa depan yang mereka warisi? Sebab di situlah letak peradaban yang sesungguhnya—bukan pada seberapa banyak kita mendidik, tetapi pada seberapa jauh pendidikan itu membebaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *