Ruang Temu Lintas-Jejaring

Yogyakarta — Peluncuran dan diskusi buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang temu lintas jejaring yang memperlihatkan luasnya resonansi gagasan perempuan berkemajuan. Tercatat sebanyak 214 peserta hadir, merepresentasikan spektrum yang beragam dari lingkungan ‘Aisyiyah, Muhammadiyah, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.

Peserta datang dari berbagai level kepemimpinan ‘Aisyiyah, mulai dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, hingga Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah dari Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo. Kehadiran ini menunjukkan bahwa isu yang diangkat dalam buku syarah memiliki relevansi langsung dengan kebutuhan gerakan di berbagai tingkatan.

Selain itu, turut hadir Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah Gamping, serta utusan dari organisasi otonom Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA). Kehadiran generasi muda ini memberi warna tersendiri dalam diskusi, terutama dalam merespons bagaimana risalah dan syarah dapat diterjemahkan dalam konteks generasi digital.

Forum ini juga dihadiri oleh perwakilan dari beberapa perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, sejumlah LSM perempuan, serta berbagai stakeholders internal UNISA Yogyakarta. Komposisi peserta yang lintas sektor ini memperlihatkan bahwa Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan tidak hanya relevan dalam lingkup organisasi, tetapi juga dalam diskursus akademik dan gerakan sosial yang lebih luas.

Antusiasme peserta terlihat dari dinamika diskusi yang berlangsung aktif. Sejumlah peserta menyampaikan refleksi dan pandangan mereka terhadap buku yang diluncurkan. Seorang peserta dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Bantul menyampaikan bahwa buku ini membantu memperjelas arah gerakan di tingkat daerah: “Selama ini kami memahami risalah secara umum, tetapi melalui syarah ini kami lebih mudah menerjemahkannya dalam program nyata di cabang dan ranting.”

Sementara itu, perwakilan dari Nasyiatul ‘Aisyiyah menyoroti relevansi buku ini bagi generasi muda: “Bahasanya cukup terbuka dan kontekstual. Ini penting agar generasi muda tidak merasa jauh dari gagasan risalah.”

Dari kalangan akademisi, seorang dosen dari salah satu perguruan tinggi di DIY melihat buku ini sebagai jembatan antara teori dan praktik: “Syarah ini menarik karena tidak berhenti pada konsep, tetapi mendorong kita untuk berpikir bagaimana mengimplementasikannya dalam riset dan pengabdian masyarakat.”

Komentar lain datang dari perwakilan LSM perempuan yang menilai bahwa buku ini membuka ruang kolaborasi lintas sektor: “Nilai-nilai yang dibangun dalam syarah ini sangat potensial untuk didialogkan dengan isu-isu perempuan di luar organisasi, seperti advokasi dan pemberdayaan.”

Keberagaman peserta dan respons yang muncul menunjukkan bahwa peluncuran buku ini telah melampaui fungsi seremonial. Ia menjadi ruang konsolidasi, pertukaran gagasan, sekaligus pembuka kemungkinan kolaborasi ke depan.

Melalui kehadiran 214 peserta dari berbagai latar belakang, kegiatan ini menegaskan bahwa Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan memiliki daya jangkau yang luas—tidak hanya sebagai teks, tetapi sebagai titik temu bagi berbagai aktor yang memiliki komitmen pada penguatan peran perempuan dalam masyarakat. Sebuah langkah awal menuju gerakan yang lebih terhubung, reflektif, dan berdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *