Yogyakarta — Dalam sesi pembahasan buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan, Dr. Siti ‘Aisyah, M.Ag. menyoroti satu isu krusial yang kerap menjadi titik lemah dalam banyak gerakan: jarak antara teks dan praksis. Ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah risalah tidak hanya ditentukan oleh kedalaman gagasannya, tetapi oleh sejauh mana ia disosialisasikan, dipahami, dan dihidupkan secara kolektif.
Menurutnya, kehadiran syarah merupakan langkah penting, tetapi belum cukup. Syarah harus dilanjutkan dengan strategi diseminasi yang masif dan sistematis ke seluruh jejaring ‘Aisyiyah—dari tingkat pusat hingga ranting. Tanpa itu, risalah dan syarah berpotensi menjadi dokumen elitis yang beredar di kalangan terbatas, tanpa daya ubah yang nyata di akar rumput.
Dr. Siti ‘Aisyah menekankan bahwa sosialisasi tidak boleh dimaknai sekadar sebagai penyampaian informasi, melainkan sebagai proses internalisasi nilai. Ini berarti risalah dan syarah perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang kontekstual, metode yang partisipatif, serta media yang sesuai dengan karakter kader di berbagai level—termasuk generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya integrasi syarah dalam sistem kaderisasi. Menurutnya, jika Risalah Perempuan Berkemajuan adalah arah ideologis, maka syarah harus menjadi bagian dari kurikulum kader—dibaca, didiskusikan, dan diuji dalam praktik organisasi. Dengan cara ini, syarah tidak hanya menjadi bacaan, tetapi menjadi alat pembentuk cara berpikir dan bertindak.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa keberhasilan sosialisasi sangat bergantung pada peran kepemimpinan di setiap level. Para pimpinan ‘Aisyiyah perlu menjadi role model dalam menghidupkan nilai-nilai risalah—bukan hanya mengutipnya, tetapi menerjemahkannya dalam keputusan, program, dan interaksi sehari-hari. Tanpa keteladanan, risalah akan sulit bertransformasi menjadi budaya organisasi.
Dalam perspektifnya, syarah ini membuka peluang besar untuk memperkuat konsolidasi ideologis gerakan. Namun peluang tersebut harus direspons dengan kerja kolektif yang terencana: penyusunan modul turunan, forum-forum diskusi berkelanjutan, hingga pemanfaatan media digital sebagai kanal penyebaran gagasan.
Dengan penekanan yang tajam, Dr. Siti ‘Aisyah mengajak agar Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan tidak berhenti sebagai produk intelektual, tetapi bergerak menjadi arus utama pemikiran di dalam ‘Aisyiyah. Dari sini, risalah tidak hanya dibaca, tetapi dihidupi—menjadi orientasi bersama dalam membangun gerakan perempuan yang berkemajuan, berkeadaban, dan berdampak luas.



