Ada satu asumsi yang terlalu lama dibiarkan: bahwa perempuan adalah pihak yang paling menderita dalam setiap krisis. Kalimat ini terdengar simpatik, tetapi diam-diam problematis. Ia menempatkan perempuan sebagai objek penderitaan, bukan subjek perubahan. Dalam narasi semacam ini, perempuan selalu hadir di hilir—sebagai yang terdampak, bukan yang menentukan arah. Editorial ini memilih untuk tidak melanjutkan kenyamanan asumsi tersebut. Sebab, selama perempuan terus dibaca sebagai korban, kita kehilangan keberanian untuk melihatnya sebagai penentu masa depan. Krisis peradaban hari ini—ekologis, ekonomi, hingga moral—bukan sekadar peristiwa eksternal yang “menimpa” manusia. Ia adalah hasil dari cara kita membangun dunia: eksploitatif, hierarkis, dan sering kali maskulin dalam logika kuasanya. Ketika alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditaklukkan, ketika pertumbuhan ekonomi dijadikan tujuan tanpaContinue Reading

Di tengah arus zaman yang bergerak cepat—ditandai oleh krisis ekologis, disrupsi teknologi, dan fragmentasi sosial—perbincangan tentang perempuan seringkali terjebak dalam dua kutub: antara glorifikasi simbolik dan reduksi praktis. Perempuan dipuji sebagai “pilar peradaban”, tetapi dalam kenyataan, suara dan perannya kerap dipinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis. Dalam konteks ini, Risalah Perempuan Berkemajuan hadir bukan sekadar sebagai dokumen normatif, tetapi sebagai arah ideologis yang menuntut pembacaan ulang, penghayatan, dan terutama penghidupan dalam realitas. Namun, setiap risalah memiliki keterbatasannya: ia padat, normatif, dan seringkali berbicara dalam bahasa prinsip. Ia memerlukan jembatan agar dapat menjangkau ruang praksis yang konkret. Di sinilah pentingnya syarah. Dalam tradisi keilmuan Islam, syarah bukan sekadar penjelasan; ia adalah bentuk dialog intelektual lintas waktu—upaya menghidupkan teks agarContinue Reading