Ada kecenderungan yang semakin terlihat dalam banyak gerakan sosial hari ini: semangat yang tinggi tidak selalu diikuti oleh kedalaman pengetahuan. Isu diangkat dengan cepat, slogan disebarkan dengan luas, tetapi refleksi sering kali tertinggal. Dalam konteks gerakan perempuan, situasi ini menjadi lebih problematis. Sebab ketika perjuangan tidak ditopang oleh kerangka pengetahuan yang kokoh, ia berisiko mengulang apa yang ingin ia lawan—meski dengan bahasa yang berbeda.
Kita menyaksikan bagaimana berbagai isu tentang perempuan—ketidakadilan, kekerasan, marginalisasi—menjadi bagian dari diskursus publik yang semakin ramai. Ini tentu perkembangan penting. Namun, pertanyaannya: apakah keramaian ini selalu berbanding lurus dengan kejernihan? Dalam banyak kasus, narasi yang beredar justru bersifat simplifikatif, reaktif, dan terfragmentasi. Kompleksitas persoalan direduksi menjadi dikotomi, dan solusi dipersempit menjadi respons sesaat.
Dalam kondisi seperti ini, aktivisme mudah terjebak dalam repetisi. Ia mengulang slogan yang sama, mengafirmasi posisi yang sudah diyakini, dan bergerak dalam lingkaran yang sulit ditembus. Alih-alih membuka kemungkinan baru, gerakan justru memperkuat batas-batas yang ada. Perempuan berbicara, tetapi tidak selalu didengar secara transformasional. Mereka hadir, tetapi tidak selalu mengubah struktur.
Masalahnya bukan pada aktivisme itu sendiri. Gerakan tetap menjadi bagian penting dari perubahan sosial. Namun, tanpa fondasi pengetahuan, gerakan kehilangan arah strategis. Ia menjadi mudah digerakkan oleh momentum, tetapi sulit membangun kesinambungan. Dalam jangka panjang, ini tidak hanya melemahkan dampak, tetapi juga menguras energi kolektif.
Islam berkemajuan menawarkan perspektif yang berbeda. Dalam tradisi ini, amal tidak pernah dipisahkan dari ilmu. Tindakan harus berangkat dari pemahaman, dan pemahaman harus diuji dalam tindakan. Gerakan tanpa ilmu berisiko menjadi serampangan, sementara ilmu tanpa gerakan berisiko menjadi steril. Keduanya harus hadir dalam satu tarikan napas yang sama. Dalam konteks perempuan, ini berarti bahwa perjuangan tidak cukup hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga memerlukan ketajaman analisis dan kedalaman refleksi.
Namun demikian, kita juga perlu mengakui bahwa produksi pengetahuan tidak selalu inklusif. Perempuan sering kali berada di pinggiran dalam dunia akademik dan intelektual. Akses terhadap sumber daya, kesempatan riset, hingga pengakuan ilmiah tidak selalu terbuka secara setara. Dalam situasi seperti ini, wajar jika aktivisme berkembang lebih cepat daripada produksi pengetahuan. Tetapi justru di sinilah tantangan itu berada: bagaimana membangun tradisi intelektual yang tidak terpisah dari gerakan, tetapi tumbuh bersamanya.
Tanpa itu, gerakan perempuan berisiko terus berada dalam posisi reaktif—merespons masalah tanpa sempat merumuskan arah jangka panjang. Ia menjadi kuat dalam suara, tetapi lemah dalam struktur. Padahal, perubahan peradaban tidak hanya membutuhkan keberanian untuk bersuara, tetapi juga kemampuan untuk membangun kerangka berpikir yang mampu bertahan melampaui satu generasi.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap godaan popularitas. Di era digital, aktivisme sering kali diukur dari visibilitas: seberapa banyak yang melihat, menyukai, atau membagikan. Namun, visibilitas tidak selalu berarti kedalaman. Gerakan yang terlalu bergantung pada logika platform berisiko kehilangan substansi, karena ia harus terus menyesuaikan diri dengan ritme yang cepat dan dangkal. Dalam situasi ini, pengetahuan menjadi korban pertama.
Karena itu, membangun gerakan perempuan yang berkemajuan berarti membangun jembatan yang kokoh antara aktivisme dan pengetahuan. Ini bukan tugas yang mudah, tetapi juga bukan pilihan. Ia menuntut investasi jangka panjang: dalam pendidikan, riset, penulisan, dan pembentukan tradisi berpikir. Ia juga menuntut kesediaan untuk melambat—untuk membaca, berdiskusi, dan mempertanyakan kembali asumsi yang selama ini dianggap pasti.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “apa yang kita perjuangkan,” tetapi juga “bagaimana kita memahaminya.” Sebab tanpa pemahaman yang mendalam, perjuangan mudah kehilangan arah. Dan ketika itu terjadi, gerakan tidak lagi menjadi alat transformasi, melainkan sekadar repetisi—mengulang krisis yang sama dalam bentuk yang sedikit berbeda.
Jika perempuan berkemajuan ingin benar-benar menjadi aktor perubahan peradaban, maka gerakan tidak boleh berhenti pada suara. Ia harus menjadi pengetahuan yang hidup—yang terus diuji, diperbaiki, dan ditransformasikan. Tanpa itu, kita hanya bergerak cepat, tetapi tidak benar-benar maju.



