Loading...
DiscourseFriday Colloquium (FRICAS)Updates

Tantangan Pendidikan bagi Perempuan Gen Z

The Aisyiyah Center Universitas Aisyiyah kembali menghadirkan discourse series bertajuk Friday Colloquium. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membahas tema-tema khusus yang dikaji secara tematik. Dalam serial Friday Colloquium ini difokuskan pada tema pertumbuhan Generasi Z. Diharapkan bahwa dengan pembahasan tema ini bisa memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pertumbuhan generasi baru, beserta pengaruhnya bagi Aisyiyah ke depan.


  • Tema: Perempuan dan Tantangan Pendidikan bagi Generasi Z dan Alfa
  • Narasumber: Muhammad Sayuti, Ph.D., Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah
  • Pelaksanaan: 30 Desember 2022, di Ruang Seminar Gedung Siti Moendjijah, Univesitas Aisyiyah Yogyakarta

Narasumber mengeksplorasi banyak gagasan dan analisis tentang tantangan pendidikan bagi Generasi Z dan Alfa. Beberapa pokok pikiran yang dieksplorasi oleh narasumber kami rangkumkan dalam narasi sebagai berikut:

Dunia pendidikan sesungguhnya sedang mengalami revolusi pembelajaran. Pergantian generasi yang sedang tumbuh dan berkembang di dunia pendidikan menjadi pemicunya. Mereka memiliki literasi digital yang jauh lebih baik daripada guru mereka. Sebagai digital natives, mereka memiliki pola belajar yang harus diantisipasi oleh generasi sebelumnya, baik sebagai guru maupun sebagai orangtua. Refleksi dan evaluasi merupakan sebaik-baiknya proses untuk pendidikan itu sendiri. Sederhananya, pada momen besar tersebut kita perlu meminimkan selebrasi dan memperkuat refleksi dan evaluasi. Terlebih lagi pendidikan merupakan garda terdepan dalam menyongsong harapan seratus tahun kemerdekaan Indonesia Emas 2045.

Pertanyaan mendasar dalam refleksi dan evaluasi pendidikan adalah, apakah sebagai guru, kita telah berupaya membekali siswa perihal persepsi tentang itu semua? Seperti banyak pembahasan dan kajian, bonus demografi akan menjadi bumerang bila persiapan, pembekalan, dan pengayaan generasi muda kurang tepat guna dan sasaran.

Para pemuda hari ini dalam usia sekolah dasar dan tinggi dapat dikategorikan sebagai generasi Z (1997-2013). Bila menggunakan perspektif kodrat zaman, Gen Z merupakan generasi yang dapat dikatakan melek teknologi. Mereka adalah generasi yang sejak lahir sudah dipapar dan ditemani oleh perkembangan teknologi informasi digital. Singkatnya, aktivitas mereka sudah berbaur dengan teknologi. Terlebih lagi, perkembangan artificial intellegence merupakan wacana yang tidak bisa dihindari.

Bila hal tersebut dimasukkan dalam kajian, tentu persiapan, pembekalan, dan pengayaan terhadap Gen Z akan sangat kompleks dan menantang. Seberapa jauh peran guru hadir dalam ruang persiapan, pembekalan, dan pengayaan tersebut?

BACA JUGA:   Sains dan Perempuan Gen Z

Mungkin dengan semangat pembaharuan, kita bisa mengatakan Merdeka Belajar adalah kunci. Seperti slogan Hari Guru Nasional 2023 Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar. Kalau kita cermati lebih jauh, ide mendasar dari Merdeka Belajar adalah pembelajaran berfokus pada anak beserta kegembiraan sesuai kontekstualitas lingkungan. Segala atribut pengajaran yang menekan mental peserta didik dihilangkan, mulai dari Ujian Nasional, tuntutan usia calistung, kemudahan akses digital, sampai pembelajaran berbasis kegembiraan, semua coba digulirkan.

Namun sayangnya, orientasi demikian belum terlalu cukup. Karena dunia hari ini telah masuk pada percepatan perubahan yang ekstrem. Lebih mudah disebut disrupsi berbasis kecepatan (baca dromologi). Hal laten yang paling dicemaskan dalam hal ini adalah jangan sampai pelajaran hari ini tidak terlalu berguna bagi masa depan. Sekalipun pengajaran hari ini begitu meriah, bagus, dan populis, orientasi substansial, linieritas, dan kontinuitas tetap harus dikedepankan. Selain itu, bila kita membicarakan persiapan, pembekalan, dan pengayaan, tentu perspektif pikiran harus mutlak tentang masa depan itu sendiri (futurisme). Pertanyaannya, bagaimana masa depan itu?

Melampaui zaman

Masa depan memanglah misteri, tapi tanda-tanda misteri tersebut dapat kita urai dan untai dengan memahami realitas hari ini. Seperti kata Einstein, bahwa Tuhan tidak bermain dadu. Bekal untuk peserta didik tidak terlalu cukup hanya dijawab dengan praktik digitalisasi pendidikan. Penggunaan AI, aplikasi siap saji, digitalisasi administrasi, eksistensi citra, dan kegembiraan pelajaran, hanya akan menjadikan siswa menjadi tools man.

Pandangan pada tulisan ini tidak bermaksud menghalangi penggunaan dan keterlibatan alat-alat tersebut. Namun, pendidikan harus mampu membekali keterampilan, kecerdasan, dan keafektifan yang melampaui zaman. Bagaimanapun pendidikan adalah ruang pembekalan untuk masa depan.

Kita bisa mencari contoh sejenis dalam jumlah banyak, apa yang kita peroleh di sekolah tidak terlalu berguna saat kita lulus. Bisa jadi, segala atribut aplikasi pendidikan hari ini, beberapa tahun lagi menjadi artefak terbengkali yang tertimbun di memori penyimpanan digital belaka. Artinya, kita tidak boleh berpaku pada semangat zaman. Karena era disrupsi akan membuat zaman berubah dengan cepat.

Pendidikan Indonesia harus masuk pada upaya-upaya spekulatif yang rasional, terperinci, dan dinamis. Jangan sampai, kita menjadi manusia yang tertipu zaman pesta pora digitalisasi. Oleh karena itu, sekali lagi sangat penting dipahami bahwa pendidikan adalah upaya melampaui zaman. Guru harus memahami dasar paradigma berpikir ini. Jangan sampai kita hanya menjadi target user suatu produk—yang akhirnya mengubah wajah pendidikan menjadi pasar aplikasi.

BACA JUGA:   Siti Munjiyah

“Mind Blowing Extreme”

Orientasi masa depan untuk melampaui zaman yang bisa kita lihat sekarang adalah, persoalan iklim, robot humanoid, perkembangan neurosains, penjelajahan antariksa, ekonomi global, perang dunia, dan learning big data. Apakah guru-guru dan pendidikan kita hari ini membicarakan itu semua? Mempersiapkan paradigma itu semua?

Semua orientasi masa depan tersebut hanya bisa dicapai dengan kajian-kajian pikiran berwawasan spekulatif dan keterbukaan pada perubahan yang ekstrem. Terutama pada kasus neurosains, apakah kita siap bahwa kemungkinan masa depan seorang human akan bersenyawa dengan mesin dalam permodelan hibrid?

Wacana kajian itu di kalangan saintis sekarang sedang ramai. Mereka percaya secara sains kemungkinan evolusi manusia menuju human-machine (hibryd) akan terealisasi. Sudahkah pendidikan kita mempersiapkan sikap terhadap itu? Rasionalitas dalam persoalan ini perlu didialogkan dan merupakan jalan keluar terbaik. Itu sebabnya dibutuhkan keterbukaan pada kehadiran mind blowing extrem.

Benar salah sudah bukan lagi kajian utama yang perlu diperdebatkan. Melainkan, seberapa siap kita semua terdisrupsi? Bagaimanapun sekuat apapun kita menahan laju zaman, perubahan tetaplah hadir dalam wujudnya yang nyata. Selain hal tersebut, paling terdekat dan nyata sebenarnya adalah persoalan pemanasan global dan perubahan iklim (climate change). Hal tersebut berkaitan erat dengan persoalan kolektif manusia dalam menjangkau masa depan bumi. Corak-corak pendekatan berbasis individualisme dan parsial sudah harus dihilangkan. Pada titik ini kesulitan dan kompleksitas menjadi tantangan utama. Karena masyarakat kapitalis itu sendiri adalah bentukan dari egoisme dan individualitas.

Selama manusia belum menyadari bahwa akumulasi teknologi, ekonomi, dan sosiologi sangat berdampak luar biasa pada iklim dan alam, selama itu akumulasi percepatan perubahan iklim semakin cepat. Pada akhirnya, harga yang harus dibayarkan adalah masa depan umat manusia itu sendiri. Filsafat spekulatif adalah suatu aliran atau pendekatan dalam filsafat yang berfokus pada pengembangan pemikiran abstrak dan konseptual untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas, alam semesta, dan aspek-aspek kehidupan.

BACA JUGA:   Tantangan Kesehatan Reproduksi Era Gen Z

Filsafat spekulatif seringkali mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan besar tentang eksistensi, kebenaran, nilai, dan konsep-konsep dasar lainnya. Jadi, filsafat spekulatif setidaknya akan memberi bekal tentang abstraksi, konsep, dan nilai bagaimana kondisi masa depan atas kalkulasi hari ini. Jika filsafat sejarah formal membahas hakikat sejarah (bukan jalannya peristiwa-peristiwa sejarah) dan filsafat sejarah kritis mempersoalkan berbagai sarana metodologis sebagai pertanggungjawaban akademis, filsafat sejarah spekulatif merupakan bidang ilmu sejarah yang berani memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul pada masa depan.

Dugaan, prediksi, dan spekulasi didasarkan pada pola gerak dan tujuan akhir dari proses perkembangan sejarah. Atas dasar tersebut, penerapan filsafat spekulatif dalam konteks perubahan iklim dan upaya melampaui zaman memiliki beberapa keuntungan potensial seperti pemahaman lebih dalam, pengembangan konsep baru, pemikiran sistematis, reorientasi nilai, kristisisme terhadap paradigma eksisting, dialog lintas disipilin, dan inspirasi untuk tindakan.

Di antara poin tersebut, reorientasi nilai dan inspirasi tindakan akan lebih memberi peran utama. Reorientasi nilai dapat membantu merenungkan kembali nilai-nilai besar terhadap kesadaran perubahan iklim. Poin ini bisa menjadi semacam dogma baru, doktrin baru, atau paradigma baru dalam bermasyarakat. Khususnya reorientasi nilai ekonomi dan sosial.

Kemudian, inspirasi tindakan. Pada konsep tersebut, filsafat spekulatif akan membantu masyarakat untuk mulai merangsang pemikiran yang mendalam tentang kompleksitas perubahan iklim. Bukan hanya pada tataran masyarakat, titik terendah individu juga dapat merasa lebih termotivasi untuk berperan aktif dalam upaya mitigasi dan adaptasi, sebab di sana inspirasi tindakan mulai coba digulirkan. Pada poin ini kita bisa memakai contoh Pandawara Group. Kelompok yang hanya terdiri dari lima pemuda ternyata mampu menginspirasi program bersih-bersih selokan, gorong-gorong, sungai, hingga pantai-pantai besar yang sudah darurat kondisinya.

Namun juga perlu diperhatikan, langkah-langkah seperti Pandawara Group tersebut apa hanya sebatas konten? Keberlanjutan dalam hal ini harus ditopang dengan pikiran terhadap penting dukungan regulasi. Jadi, meskipun terdapat keuntungan, penting untuk diingat bahwa filsafat spekulatif juga dapat menjadi pendekatan kompleks dan abstrak. Oleh karena itu, untuk menghasilkan dampak nyata dalam perubahan iklim, perlu kolaborasi antara filsuf, ilmuwan, aktivis, dan pembuat kebijakan untuk menerjemahkan pemikiran filsafat menjadi tindakan konkret yang benar-benar mendasar dan mengakar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *