Loading...
Friday Colloquium (FRICAS)Updates

Tantangan Kesehatan Reproduksi Era Gen Z

The Aisyiyah Center Universitas Aisyiyah kembali menghadirkan discourse series bertajuk Friday Colloquium. Kegiatan ini dimaksudkan untuk membahas tema-tema khusus yang dikaji secara tematik. Dalam serial Friday Colloquium ini difokuskan pada tema pertumbuhan Generasi Z. Diharapkan bahwa dengan pembahasan tema ini bisa memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pertumbuhan generasi baru, beserta pengaruhnya bagi Aisyiyah ke depan.


  • Tema: Perempuan dan Ketahanan Kesehatan Reproduksi Generasi Z
  • Narasumber: Andari Wuri Astuti, Ph.D., Ketua Program Studi Magister Kebidanan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Univesitas Aisyiyah Yogyakarta
  • Pelaksanaan: 13 Januari 2023, di Ruang Seminar Gedung Siti Moendjijah, Univesitas Aisyiyah Yogyakarta

Narasumber mengeksplorasi banyak gagasan dan analisis tentang tantangan kesehatan reproduksi bagi perempuan generasi Z. Beberapa pokok pikiran yang dieksplorasi oleh narasumber kami rangkumkan dalam narasi sebagai berikut:

Sejak anak memasuki masa pubertas, dia menjadi individu yang aktif secara seksual, dia bisa terangsang dan juga merasakan dorongan seksual. Namun, aktif secara seksual itu bukan berarti anak remaja tersebut siap melakukan hubungan seks karena organ reproduksinya belum matang. Status gizi yang makin baik dan konsumsi makanan siap saji yang bisa mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh membuat pubertas pada anak saat ini datang di usia lebih dini. Pada 30 tahun lalu, pubertas baik pada laki-laki maupun perempuan umumnya terjadi antara umur 14 dan 17 tahun. Tetapi, kini anak umur 9-10 tahun sudah bisa puber. Majunya usia pubertas itu bukan karena pengaruh Barat, drama Korea, atau Amerika. Tak perlu denial (menyangkal). Selama kita menutup mata atas pertumbuhan anak yang makin besar, maka kita akan selalu mencari alasan dan menyalahkan pihak lain atas kondisi ini.

Untuk laki-laki, pubertas ditandai dengan datangnya mimpi basah atau nocturnal emission. Mimpi basah itu terjadi ketika seorang laki-laki mengalami ejakulasi dalam tidurnya tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi ini adalah respons normal tubuh terhadap perubahan hormonal yang terjadi. Sementara bagi perempuan, pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi pertama atau menarche. Bagi sebagian anak, keluarnya darah melalui vagina ini bisa menjadi hal yang menakutkan. Karena itu, orangtua perlu memberi tahu putri mereka saat menjelang usia pubertas agar tidak menimbulkan keterkejutan atau ketakutan berlebih.

Setelah memasuki masa puber, wajar apabila pada anak remaja muncul dorongan seksual atau ketertarikan fisik kepada orang lain. Gairah seksual, nafsu birahi, sange, horny, atau keterangsangan seksual bisa muncul sewaktu-waktu dalam kondisi apa pun, baik ketika belajar, bermain, bahkan beribadah. Dorongan ini bersifat alamiah. Artinya, semua orang akan mengalaminya. ”Justru aneh jika orang sudah aktif secara seksual, tetapi tidak memiliki keterangsangan seksual,” tambah Zoya.

BACA JUGA:   Laporan Tahunan Program 2020-2021

Situs Planned Parenthood Federation of America (PPFA), semacam perkumpulan keluarga berencana di Indonesia, menyebut, saat terangsang secara seksual, tubuh akan mengalami perubahan fisik dan emosional. Penis dan klitoris kemungkinan akan mengalami ereksi, yaitu membesar, keras, dan menjadi sensitif. Selain itu, ujung penis atau vulva (bagian luar) vagina akan terasa basah.

Namun, bukan hanya organ kemaluan yang akan bereaksi saat rangsangan itu datang. Detak jantung, frekuensi napas, tekanan darah, dan suhu tubuh juga akan naik. Umumnya, birahi itu muncul akibat adanya rangsangan seksual baik oleh diri sendiri maupun orang lain, fantasi atau pikiran seksual, dan bisa juga dari membaca, melihat, atau mendengarkan materi erotis. Gairah ini juga bisa muncul saat zona sensitif sensual tubuh kita disentuh, meski tidak semua orang akan terangsang jika bagian sensitif tubuhnya dipegang. Keterangsangan ini akan memunculkan dorongan seks atau libido yang membuat seseorang ingin terlibat dalam aktivitas seksual, baik berupa pikiran seksual, fantasi seksual, masturbasi, maupun kontak seksual dengan pasangan.

Kendalikan

Sebagai sesuatu yang alamiah, munculnya dorongan seksual tidak bisa ditahan. Namun, birahi itu bisa dikendalikan. Menurut Andari, keterangsangan itu tidak bisa dialihkan dengan hal-hal lain, seperti membaca, olahraga, atau memikirkan hal lain. Keterangsangan yang memunculkan dorongan seksual itu tidak otomatis harus disalurkan. Terlebih bagi remaja yang organ reproduksinya belum matang meski sudah aktif secara seksual.

Di sinilah peran besar orangtua diperlukan agar remaja mampu mengelola dan mengendalikan keterangsangan dan dorongan seksualnya. Orangtua bisa mengajarkan bagaimana mengendalikan birahi itu saat muncul, seperti dengan menutup mata dan menarik napas panjang. Konseling sebaya membantu remaja atau mahasiswa ketika menghadapi persoalan berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan persiapan pernikahan. Ketika menutup mata ini, terapi kognitif bisa dilakukan. Datangnya birahi adalah hal yang normal dan dialami siapa pun. Penerimaan ini penting karena penyangkalan atau penolakan atas hadirnya keterangsangan hanya akan menimbulkan tekanan karena melawan kerja otak dan hormon di tubuh kita.

Jadi, saat birahi datang, anak perlu luangkan waktu sejenak untuk dirinya. Tutup mata dan fokus dengan perasaan diri. Jika birahi itu muncul karena membayangkan lawan jenis, yakinkan diri untuk membayangkannya nanti malam saat tidur, tidak saat sedang beraktivitas seperti ketika birahi itu datang. Selama fase ini, jangan menatap orang yang membuat terangsang karena akan membuat makin sulit untuk mengendalikan dorongan seksualnya.

BACA JUGA:   Fatayat NU dalam Perubahan

Setelah pengendalian birahi itu dilakukan, segera lanjutkan dan fokus pada hal yang sedang dikerjakan saat keterangsangan tadi muncul. Jika keterangsangan kembali muncul, ingatkan diri untuk fokus menunda bayangan itu hingga malam tiba. Meski tidak mudah, cara ini bisa dilatih hingga membuat remaja terbiasa mengendalikan dorongan seksualnya.

Menurut Andari, untuk mengajarkan pengendalian ini, ”Ayah bisa menerangkan bahwa bagi laki-laki membayangkan perempuan adalah normal. Namun, untuk jadi laki-laki yang baik, jangan sampai melecehkan orang lain,” ujarnya. Sementara bagi remaja perempuan, munculnya keterangsangan bisa dipicu oleh hal yang berbeda dibandingkan laki-laki karena fantasi seksual perempuan jauh lebih kaya daripada laki-laki. Birahi itu bisa muncul saat mereka membayangkan idola mereka. Kuatnya fantasi inilah yang membuat banyak remaja putri pingsan saat manyaksikan grup vokal atau boy band kesukaannya.

Saat birahi pada remaja putri itu datang, orangtua atau ibu bisa mengingatkan anak perempuannya untuk tetap bisa menjaga diri. Keterangsangan bukan berarti remaja putri bisa menyerahkan tubuh mereka atau berlaku jinak-jinak merpati kepada orang yang mereka suka. Selain itu, saat dalam fase ovulasi (setelah fase menstruasi), jangan berdua-duaan dengan orang yang disuka karena kalau terangsang akan lebih sulit menghindari terjadinya hal-hal yang tak diinginkan.

Masturbasi sehat

Selain mengajarkan soal seluk-beluk dan cara mengendalikan keterangsangan, orangtua juga bisa mengajak berdiskusi anak atau menyelipkan pesan-pesan moral tentang apa yang boleh dilakukan dan terlarang dilakukan saat birahi datang. ”Orangtua bisa mengingatkan anak remajanya bahwa ketika rangsangan seksual hadir, bukan berarti mereka boleh main colek, menyiuli, menggoda, atau melecehkan orang lain,” katanya.

Namun, bagi remaja atau dewasa muda yang sulit mengendalikan keterangsangan yang muncul dan membutuhkan penyaluran dorongan seksual, masturbasi bisa dilakukan dengan syarat tertentu. Masturbasi adalah cara melepas ketengangan seksual yang tidak menyebabkan penularan penyakit, kehamilan tidak diingankan dan bisa menimbulkan kesenangan pada diri. Meski begitu, Andari mengingatkan untuk tetap melakukan masturbasi dengan sehat. ”Jangan bermasturbasi sambil menonton film porno. Itu tidak sehat,” katanya.

Pornografi tidak sehat karena menampilkan perilaku seksual yaang tidak lazim, khayalan, dan bukan realitas. Karena itu, apa pun yang ada dalam film porno tidak bisa dijadikan patokan, baik soal ukuran atau warna alat vital, gaya bercinta, maupuan standar kepuasan seksual. Belum lagi, pemain film porno adalah atlet seks yang disiapkan khusus untuk melakukan adegan yang ada. Masturbasi yang sehat harus menjadi ”me time” alias waktu untuk fokus dan menyenangkan dan mengeksplorasi diri sendiri. Untuk mendukung masturbasi yang sehat, orangtua juga bisa mengajarkan tindakan awal sebelum bermasturbasi, seperti mencuci tangan atau bagaimana menyentuh organ kelamin.

BACA JUGA:   Komunikasi Pemberdayaan Suku Terasing

Perilaku masturbasi sebenarnya juga bisa dilakukan oleh perempuan dengan menyentuh klitoris mereka. Namun, kuatnya budaya patriarki membuat membicarakan masturbasi pada perempuan menjadi hal yang janggal. Meski masturbasi bisa dilakukan, harus diingat pula batasannya, jangan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari ataupun kesejahteraan mental yang lain. Seperti dikutip Psych Central, 21 Juni 2021, frekuensi masturbasi pada setiap orang sangat beragam. Mereka yang lebih sering bermasturbasi belum tentu lebih berbahaya dibandingkan yang kurang sering bermasturbasi.

Sementara menurut PPFA, tidak apa-apa jika seseorang bermasturbasi tiap hari, bahkan lebih dari sekali dalam sehari. Namun, masturbasi yang terlalu sering dipastikan akan mengganggu aktivitas lain, baik sekolah, bekerja, bersosialisasi dengan teman, berkumpul dengan keluarga, maupun mengikuti kegiatan di lingkungan masyarakat.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorerds-5 (DSM-5) yang menjadi rujukan gangguan kesehatan mental pun tak menyebut adanya kecanduan masturbasi. Namun, masturbasi yang terlalu sering lebih dikelompokkan pada perilaku seksual kompulsif dan kadang dikategorikan pada gangguan hiperseksualitas atau perilaku seksual di luar kendali (OCSB). Karena itu, batasan frekuensi masturbasi yang sehat adalah jika kegiatan itu tidak menghalangi aktivitas sehari-hari. Meski aman, masturbasi tetap bisa menimbulkan distres atau stres negatif, rasa malu, hingga masalah relasi sosial.

Pacaran

Diskusi tentang mengelola keterangsangan dan dorongan seksual itu akan menjadi lebih bermakna saat anak sudah mengenal pacaran atau memiliki pacar. Diperbolehkan atau tidaknya anak berpacaran sangat bergantung pada budaya, agama, dan nilai yang dipercaya orangtua. Namun, orangtua yang melarang atau mengizinkan anaknya berpacaran harus mampu memberikan pertimbangan yang bisa diterima anak. Orangtua bisa mendiskusikan dengan anak apa sebenarnya pacaran dan hal apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dijalani selama pacaran.

Dalam diskusi soal pacaran ini, orangtua juga bisa bernegosiasi dengan anak. Orangtua dapat mengizinkan anaknya berpacaran selama disertai adanya tanggung jawab atas hidupnya, seperti bangun pagi tanpa harus dibangunkan orangtua, ibadah tepat waktu tanpa harus diteriaki ayah-ibu, atau membuat mereka makin rajin belajar dan nilai di sekolah naik.

Namun, kalau orangtua akhirnya memberi kepercayaan pada anak untuk berpacaran, tetap harus ada rambu-rambu yang selalu dipatuhi dan diingatkan orangtua kepada anak. Peringatan ini harus disampaikan dengan nada tepat dalam situasi yang pas, bukan menginterogasi atau mencurigai anak. Hal yang harus dijaga selama pacaran itu adalah, ”Usahakan abstinen (tidak berhubungan badan) sampai menikah, setia pada satu pasangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *