Loading...
Wiki-Aisyiyah

Siti Walidah: Biografi Singkat

Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan lahir pada 3 Januari 1872, hari ini tepat 146 tahun silam, di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah istri pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, juga salah satu tokoh emansipasi perempuan Indonesia abad ke-20 atau semasa era pergerakan nasional, yang diperjuangkannya melalui Aisyiyah. Berikut ini sejarah hidup Nyai Ahmad Dahlan. Nyai Ahmad Dahlan selalu setia mendampingi suaminya dan Muhammadiyah. Bahkan, setelah Haji Dahlan meninggal dunia pada 1923, ia terus aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan wafat pada 31 Mei 1946 setelah turut memberikan sumbangsih kepada tokoh-tokoh bangsa yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

1872 – Putri Kauman

Lahir dengan nama Siti Walidah pada 3 Januari 1872 di Kauman, kampung yang berada di dalam lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ayahnya, K.H. Muhammad Fadli, adalah seorang ulama besar dan masih berkerabat dengan keluarga istana.

1889 – Menikah

Tahun 1889, Siti Walidah melangsungkan perkawinan dengan Ahmad Dahlan yang masih terhitung kerabat dengannya. Setelah menikah, ia lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Pasangan ini dikaruniai 6 orang anak. Baca juga: Cara Ahmad Dahlan Memuliakan Perempuan

1914 – Sopo Tresno

Nyai Ahmad Dahlan bersama suaminya mendirikan Sopo Tresno pada 1914, atau dua tahun setelah Muhammadiyah dicetuskan. Sopo Tresno adalah semacam kelompok diskusi untuk mendalami makna Alquran, terutama ayat-ayat tentang perempuan. Selain itu, Sopo Tresno juga menjadi wadah bagi kaum perempuan untuk belajar membaca dan menulis serta mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

1917 – Aisyiyah

Sopo Tresno semakin besar dan anggotanya pun kian bertambah. Maka, diputuskan untuk mengganti nama perkumpulan ini menjadi Aisyiyah, diresmikan pada 22 April 1917. Nyai Ahmad Dahlan ditunjuk sebagai pemimpinnya.

1922 – Emansipasi Wanita

Tahun 1922, Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah secara organisasi. Berdirilah sekolah-sekolah khusus perempuan di bawah naungan Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan pun semakin giat memperjuangkan emansipasi wanita. Ia tidak setuju dengan konsep patriarki dan menilai seorang istri adalah mitra bagi suaminya. Nyai Ahmad Dahlan juga menentang praktik kawin paksa. Baca juga: Gerak Tirto Adhi Soerjo dalam Emansipasi Perempuan Indonesia

1926 – Memimpin Kongres

Tahun 1923, K.H. Ahmad Dahlan wafat. Nyai Ahmad Dahlan melanjutkan perjuangan suaminya, baik di Aisyiyah maupun Muhammadiyah. Pada 1926, ia bahkan memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Nyai Ahmad Dahlan adalah wanita pertama yang memimpin pertemuan besar seperti ini. Kiprahnya pun diberitakan oleh berbagai surat kabar kala itu. Baca juga: Kiai Dahlan & Muhammadiyah: Usaha Melumat Kejumudan Umat Mengiringi Muhammadiyah yang kian berpengaruh dalam nuansa pergerakan nasional, Aisyiyah juga semakin besar. Anggotanya semakin bertambah banyak. Maka, dibukalah cabang-cabang Aisyiyah di berbagai daerah di Indonesia. Nyai Ahmad Dahlan memimpin Aisyiyah hingga tahun 1934.

1943 – Dilarang Jepang

Sejak 1942, wilayah Indonesia bukan lagi di bawah penjajahan Belanda, digantikan oleh pemerintahan militer Jepang. Namun, Aisyiyah kemudian dilarang oleh pemerintah Dai Nippon pada 1943. Kendati begitu, Nyai Ahmad Dahlan tak lantas diam. Ia bekerja di sekolah-sekolah bentukan Jepang agar bisa mendidik langsung anak-anak Indonesia. Baca juga: Indonesia Merdeka Bukan Hadiah dari Jepang Selain itu, Nyai Ahmad Dahlan juga menentang sejumlah ritual-ritual yang dipaksakan pemerintah militer Jepang kepada rakyat Indonesia, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, menghormat ke arah matahari serta bendera Jepang, dan lain-lain.

1945 – Masa Revolusi Fisik

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Belanda datang lagi dengan maksud ingin kembali menguasai negara ini. Nyai Ahmad Dahlan turut berjuang mempertahankan kemerdekaan dan sering dimintai nasihat oleh para tokoh bangsa termasuk Presiden Sukarno atau Panglima Besar Jenderal Soedirman. Baca juga: Kiprah Para Santri Muhammadiyah Mengawal Republik Tak hanya itu, ketika tentara dan rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan, Nyai Ahmad Dahlan kerap menyediakan rumahnya sebagai tempat berlindung, juga menyiapkan masakan untuk para pejuang. Ia juga mengimbau kepada para mantan muridnya agar bergabung dengan angkatan perang RI.

1946 – Meninggal Dunia

Nyai Ahmad Dahlan meninggal dunia di Kauman, Yogyakarta, tanggal 31 Mei 1946, dalam usia 74 tahun. Pemakaman jenazahnya di lingkungan Masjid Gede Kauman dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, juga para menteri yang mewakili pemerintah RI. Baca juga: Meneladani Perjuangan dan Kesetiaan Nyai Ahmad Dahlan

1971 – Pahlawan Nasional

Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971, pemerintah RI menetapkan Nyai Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional, gelar serupa yang juga disematkan kepada suaminya. Aisyiyah yang didirikannya dan sempat dilarang pada masa pendudukan Jepang terus berkembang serta masih eksis hingga saat ini.

* Artikel ini diadaptasi dari tirto.id

BACA JUGA:   Siti Hayinah
Leave a Reply

Your email address will not be published.