Loading...
Laporan RisetResearchUpdates

Ruang Ketiga di UNISA: Dialektika Mahasiswa dan Kemuhammadiyahan

Sebagai sebuah pusat studi di Universitas Aisyiyah Yogyakarta, The Aisyiyah Center melakukan sebuah riset tentang AISYIYAH DAN PERTUMBUHAN RUANG KETIGA BAGI ANAK MUDA DI UNISA YOGYAKARTA.


  • Tema: AISYIYAH DAN PERTUMBUHAN RUANG KETIGA BAGI ANAK MUDA DI UNISA YOGYAKARTA
  • Peneliti: Askuri dan Fitri Maulidah Rahmawati
  • Pelaksanaan: on going

Diskursus tentang Ruang Ketiga di perguruan tinggi menjadi relevan di UNISA, karena input mahasiswa di kampus ini berasal dari latar belakang kultural dan keagamaan yang berbeda-beda, sementara UNISA sendiri menerapkan kebijakan keagamaan Muhammadiyah dan Aisyiyah: Islam Berkemajuan. Hal ini berpotensi untuk pertumbuhan ruang ketiga, yaitu kemunculan ruang ekspresi baru di antara dua konsep atau wacana yang berbeda (Bhabha, 1994). Dalam konteks UNISA, kebijakan UNISA dengan prinsip Islam Berkemajuan diandaikan sebagai Ruang Pertama, sedangkan mahasiswa UNISA yang datang dari beragam latar belakang budaya dan keagamaan diandaikan sebagai Ruang Kedua. Maka, interaksi (mungkin pergesekan) di antara keduanya memungkinkan pertumbuhan Ruang Ketiga.

Riset ini bertujuan untuk menelusuri berbagai model Ruang Ketiga yang mungkin terbentuk di antara 2 pengandaian Ruang Pertama dan Ruang Kedua. Oleh karena itu, pertanyaan utama dalam riset ini ialah sebagai berikut:

  1. Bagaimana ruang pertama dibangun: bagaimana kebijakan UNISA dalam mengimplementasikan Islam Berkemajuan?
  2. Bagaimana ruang kedua merespons: bagaimana persepsi dan respons mahasiswa dari beragam latar belakang yang berbeda terhadap kebijakan Islam Berkemajuan di kampus?
  3. Bagaimana ruang ketiga terbentuk: apa saja model ruang ketiga yang terbentuk dalam proses interaksi antara mahasiswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kebijakan Islam Berkemajuan di kampus UNISA?

Untuk mencapai tujuan tersebut, riset ini memadukan 3 metode sebagai berikut: review dokumen kebijakan, survey, dan etnografi (observasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion). Ketiganya digunakan secara simultan juga sebagai model triangulasi.

Riset ini baru merupakan riset dasar dengan TKT tingkat 3: pembuktian konsep (proof of concept) fungsi dan/atau karakteristik penting secara analitis dan eksperimental, karena riset ini akan mengimplementasikan cara pandang ruang ketiga (sebagai proof of concept) di UNISA. Adapun luaran wajib dari riset ini ialah laporan riset disertai rekomendasi bagi pengembangan kebijakan UNISA, sedangkan luaran tambahan ialah artikel publikasi di Journal of Aisyiyah Studies.


Pendahuluan

Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) merupakan salah satu perguruan tinggi di bawah naungan organisasi Aisyiyah, sayap perempuan Muhammadiyah. Dengan jaringan Aisyiyah yang luas dan usia yang lebih dari 30 tahun, UNISA telah dikenal di seluruh wilayah Indonesia, sehingga ada banyak mahasiswa UNISA yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Para mahasiswa itu berasal dari latar belakang keagamaan, kemakmuran, dan kedaerahan yang berbeda-beda.

Dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda itu, mereka berinteraksi satu sama lain, dan yang paling determinan ialah mereka berinteraksi dengan nilai-nilai yang diterapkan dan dikembangkan oleh UNISA sendiri. Sebagai amal usaha Muhammadiyah, tentu UNISA mengadaptasi nilai-nilai yang dikembangkan oleh Aisyiyah dan Muhammadiyah, termasuk ideologi Islam Berkemajuan.

Sebagian besar mahasiswa UNISA itu bukan berasal dari kultur Muhammadiyah (Askuri, 2020). Oleh karena itu, prinsip Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Hal ini menjadikan UNISA menjadi sebuah melting pot tempat nilai-nilai yang berbeda itu saling berinteraksi: bisa saling sinergis, bisa saling menolak, atau bisa juga memunculkan ruang ekspresi baru sebagai titik temu.

Dalam kajian postcolonialism, kemunculan ruang ekspresi baru di antara dua konsep atau wacana disebut dengan Ruang Ketiga (Bhabha, 1994). Dalam konteks UNISA, kebijakan UNISA dengan prinsip Islam Berkemajuan diandaikan sebagai Ruang Pertama, sedangkan mahasiswa UNISA yang datang dari beragam latar belakang budaya dan keagamaan diandaikan sebagai Ruang Kedua. Maka, interaksi di antara keduanya memungkinkan pertumbuhan Ruang Ketiga.

BACA JUGA:   Memposisikan Amal Usaha Muhammadiyah dalam Pasar Bebas

Di era social media, pertumbuhan Ruang Ketiga seringkali tak pernah tampak di permukaan. Mahasiswa UNISA saat ini merupakan Generasi Z: mereka dilahirkan antara tahun 1996-2012 (Codrington & Grant-Marshall, 2004). Mereka diasuh dan dibesarkan oleh teknologi digital dan social media. Artinya, ekspresi mereka dalam Ruang Ketiga bisa jadi tak pernah ditampilkan secara simbolik. Artikulasi seperti ini merupakan bagian dari budaya sub-altern (Gramsci, 1978): diartikulasikan secara halus, tak terjangkau oleh kekuasaan.

Riset ini bertujuan untuk menelusuri berbagai model Ruang Ketiga yang mungkin terbentuk di antara 2 pengandaian Ruang Pertama dan Ruang Kedua. Oleh karena itu, pertanyaan utama dalam riset ini ialah sebagai berikut:

  1. Bagaimana ruang pertama dibangun: bagaimana kebijakan UNISA dalam mengimplementasikan Islam Berkemajuan?
  2. Bagaimana ruang kedua merespons: bagaimana persepsi dan respons mahasiswa dari beragam latar belakang yang berbeda terhadap kebijakan Islam Berkemajuan di kampus?
  3. Bagaimana ruang ketiga terbentuk: apa saja model ruang ketiga yang terbentuk dalam proses interaksi antara mahasiswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kebijakan Islam Berkemajuan di kampus UNISA?

Sebagai sebuah riset di bawah skema penelitian penugasan strategis yang dibebankan kepada The Aisyiyah Center, maka riset ini bertujuan untuk memberikan masukan yang konstruktif bagi pemegang kebijakan di UNISA dalam pengembangan pendidikan dan kemahasiswaan.

Ruang ketiga merupakan cara berpikir alternatif tentang ruang dan spasial, tempat orang berinteraksi secara fisik dan sosial (Soja, 2011). Teori ini mengandaikan adanya ruang pertama dan ruang kedua, yaitu dua pengelompokan spasial yang berbeda, dan mungkin bertentangan satu sama lainnya: seperti rumah (pengetahuan sehari-hari) dan sekolah (pengetahuan akademis). Ruang ketiga adalah ruang antara, atau hibrida, di mana perbedaan antara ruang pertama dan ruang kedua memungkinkan munculnya ruang ketiga.

Cara berpikir seperti ini merupakan ciri khas teori kritis yang selalu menghindari oposisi binner di antara 2 hal, misalnya benar dan salah, individu dan sosial, budaya dan alam, dan lain-lain. Teori ini memandang bahwa selalu ada cara lain di antara dualitas yang seakan saling berlawanan itu (Wharf, 2006). Oleh karena itu, ruang ketiga selalu mengandaikan keunikan setiap orang, serta memungkinkan adanya proses kreatif dan hybrid (Bhabha, 1994). Meskipun demikian, pertumbuhan ruang ketiga tidak selalu mewujud secara simbolik, karena ia bisa muncul dalam kesenyapan yang tak telihat sebagai budaya underground (Bhabha, 1994). Ia bisa berwujud bisikan-bisikan di kedai minuman, rerasanan di meja makan, atau semacamnya.

Konsep Ruang Ketiga telah digunakan dalam teori sosial untuk mengeksplorasi hubungan spasial, lebih khusus lagi dampak keragaman dan perbedaan, sehingga membuat pembedaan dengan pandangan perilaku manusia dan organisasi yang murni kumulatif dan historis. Ini telah digunakan dalam studi dualisme, seperti geografi budaya timur dan barat (Said, 1978), negara dan pasar (Bell, 1976), dan budaya tinggi dan rendah (Bourdieu, 2016), sehingga kombinasi suara “orang dalam” dan “orang luar” dapat menyatu menjadi perspektif baru yang membuka arena negosiasi baru, makna, dan representasi (Routledge, 1996). Konsep yang sama juga digunakan dalam politik geografi perkotaan (Keith & Pile, 1993; Routledge, 1996; Soja, 2011). Sementara itu, dalam konteks pendidikan, pendidikan literasi telah mendikotomikan literasi keluarga atau rumah sebagai ruang pertama dan kurikulum sekolah sebagai ruang kedua, sehingga memunculkan konsep multiliterasi sebagai ruang ketiga (Maniotes, 2005; Skerrett, 2010).

BACA JUGA:   Rencana Operasional Program 2023-2024

Perguruan tinggi memiliki potensi besar sebagai tempat pertumbuhan ruang ketiga (Whitchurch, 2008), karena input mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidikan di perguruan tinggi jauh lebih heterogen jika dibandingkan dengan level pendidikan di bawahnya yang biasanya jauh lebih homogen. Pemahaman tentang ruang ketiga di perguruan tinggi justru akan meningkatkan produktivitas kampus. Beberapa studi menjelaskan bahwa sebagian kaum minoritas di perguruan tinggi Amerika Serikat dan Eropa (terutama yang berkulit hitam dan kulit berwarna) mengalami “keterasingan” di kampus mereka, tetapi justru melalui ruang ketiga mereka bisa menavigasi diri mereka sendiri untuk menemukan diri meraih apa yang mereka inginkan (Acuff et al., 2019; Adams, 2018; Howard-West, 2021; Jett, 2022; Rudick, 2015; Singh, 2018).

Peran ruang ketiga untuk peningkatan profesionalisme di perguruan tinggi juga banyak diungkap studi lainnya. Staf akademik (tenaga kependidikan) yang selama ini dianggap sebagai peran pinggiran dianggap memainkan peran ruang ketiga di perguruan tinggi di antara dosen (sebagai navigator ruang pertama) dan mahasiswa (sebagai anggota komunitas di ruang kedua) (Smith et al., 2021). Ruang ketiga juga menunjukkan pentingnya peran para ahli teknologi pembelajaran di perguruan tinggi dalam memfasilitasi pembelajaran di era pandemi COVID-19 (Clark, 2021). Hal yang sama juga menunjukkan peran ruang ketiga bagi perempuan dalam meraih dan meningkatkan karier profesional mereka di perguruan tinggi (Denney, 2021).

Beberapa studi lainnya juga menjelaskan betapa ruang ketiga di perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk membuka dialog dengan mereka yang termarginalkan karena minoritas agama. Pandangan-pandangan feminisme Islam di perguruan tinggi Islam di Pakistan justru hidup melalui ruang ketiga (Zubair & Zubair, 2017). Perasaan marginal mahasiswa Muslim di Amerika Serikat bisa menemukan saluran dialog secara aman dan nyaman melalui ruang ketiga (Hailu et al., 2018).

Hal yang sama juga ditemukan dalam studi tentang minoritas bahasa di perguruan tinggi, bahwa ruang ketiga dibutuhkan untuk menginkubasi kelompok-kelompok minoritas etnis dengan bahasa mereka. Studi tentang literasi kritis menemukan bahwa kelompok minoritas linguistik bisa bersuara secara terbuka melalui ruang ketiga dalam pembelajaran (Cho, 2009). Demikian juga bahwa ruang ketiga bisa menjadi terapi kesehatan mental bagi mereka yang terdiskriminasi secara linguistik di Inggris (Ferdinand et al., 2013).

Pendeknya, ruang ketiga sangat dibutuhkan untuk mendorong semua yang tersembunyi, atau tak terwakili, atau minoritas (ras, bahasa, agama, gender, dan lain-lain), dalam berbagai lapisan di perguruan tinggi untuk menampilkan diri dan menemukan dirinya kembali untuk menavigasi diri mereka dalam ruang yang dikendalikan oleh sebuah struktur dominan (O’Meara, 2019). Pendekatan seperti ini sangat relevan dengan kondisi Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA). Sebagai salah satu amal usaha organisasi Aisyiyah, UNISA tentu merepresentasikan nilai-nilai yang dilembagakan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Salah satu nilai yang terlembagakan di UNISA ialah prinsip Islam Berkemajuan (Ma’arif, 2020). Hal inilah yang diandaikan sebagai ruang pertama dimana nilai-nilai yang telah dilembagakan oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah harus ditanamkan dan disebarkan kepada semua civitas akademika di UNISA.

Sementara itu, baik dosen maupun mahasiswa di UNISA datang dari beragam latar belakang yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai yang berlaku di UNISA. Mereka berasal dari beragam latar belakang Keislaman yang berbeda dengan Muhammadiyah. Banyak di antara mereka berlatar belakang kultural Islam Tradisi, sesuatu yang selama ini seringkali dioposisikan dengan Muhammadiyah yang dianggap beraliran Islam Modern (Istoria, 2011). Bahkan, beberapa di antara mereka merupakan mahasiswa non-Muslim. Mereka diandaikan datang dari ruang kedua: keluarga atau basis kultural mereka dari berbagai latar belakang daerah, bahasa, budaya, kelas sosial, dan keagamaan.

Tentunya, perbedaan ruang pertama dan ruang kedua di UNISA bisa menimbulkan konflik tersembunyi, tetapi juga bisa merangsang tumbuhnya ruang ketiga yang produktif untuk merengkuh mereka yang tersembunyi dan tak terwakili. Oleh karena itu, riset ini emncoba mengidentifikasi ruang ketiga yang bisa muncul di UNISA. Hal ini sangat penting untuk mengembangkan kebijakan produktif pada masa depan.

BACA JUGA:   Redefining Nasyiatul Aisyiyah

Metode Riset

Untuk menghasilkan analisis yang valid, riset ini memadukan beberapa metode riset sekaligus sebagai model triangulasi. Hal ini dilakukan dalam beberapa metode sebagai berikut:

Review Dokumen Kebijakan

Untuk menjawab pertanyaan pertama tentang “Bagaimana ruang pertama dibangun: bagaimana kebijakan UNISA dalam mengimplementasikan Islam Berkemajuan?”, maka riset ini terlebih dahulu melakukan review terhadap dokumen-dokumen kebijakan tentang Islam Berkemajuan di UNISA. Tentunya, hal ini juga akan melacak dokumen-dokumen induk dari organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Review juga dilakukan pada dokumen kebijakan yang mengatur petunjuk pelaksanaan yang lebih teknis dalam memberlakukan prinsip Islam Berkemajuan.

Survey

Untuk menjawab pertanyaan tentang “Bagaimana ruang kedua merespons: bagaimana persepsi dan respons mahasiswa dari beragam latar belakang yang berbeda terhadap kebijakan Islam Berkemajuan di kampus?”, maka riset ini akan menggunakan metode survey melalui kuesioner. Agar lebih efektif, kuesioner akan di-deliver secara online kepada mahasiswa. Di samping itu, untuk mengurangi hambatan psikologis dan perasaan tertekan, penyebarannya dilakukan secara peer to peer di antara mahasiswa dengan melibatkan anggota peneliti dari mahasiswa.

Hasil survey ini akan bisa memetakan pola-pola umum persepsi dan respons di kalangan mahasiswa terhadap kebijakan Islam Berkemajuan di kampus UNISA. Pola-pola ini disertai beberapa indikator lainnya, seperti aspek demografi, latar belakang kultural dan keagamaan, kelas sosial, dan lain-lain. Hal ini akan sangat berguna untuk pendalaman konteks melalui etnografi.

Etnografi

Discourse dalam ruang ketiga seringkali tersembunyi dari domain-domain resmi di kampus, dan hampir tak pernah terungkap secara terbuka. Untuk memahami kedalaman makna dari penamaan itu, metode etnografi digunakan untuk mendalami native’s point of views, termasuk untuk memperdalam jawaban atas pertanyaan tentang “Bagaimana ruang ketiga terbentuk: apa saja model ruang ketiga yang terbentuk dalam proses interaksi antara mahasiswa yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kebijakan Islam Berkemajuan di kampus UNISA?”

Pengumpulan Data

Metode ini akan dilakukan secara snow ball dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut:

Observasi

Observasi akan dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang potensi-potensi ruang ketiga terjadi di kalangan mahasiswa UNISA, baik di dalam maupun di luar kampus.

Wawancara Mendalam

Wawancara akan dilakukan untuk memperdalam discourse ruang ketiga yang berkembang di kalangan mahasiswa UNISA: apa saja tema-tema yang berkembang, siapa saja yang terlibat, bagaimana polanya, bagaimana ruang itu bisa terbentuk, dan lain-lain.

Wawancara mendalam juga akan dilakukan dengan beberapa stakeholders kampus yang relevan untuk mengetahui bagaimana kebijakan Islam Berkemajuan diimplementasikan, seperti pimpinan universitas, pimpinan fakultas, pimpinan program studi, dosen AIK, pimpinan BPM, dan lain-lain.

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion ini akan dilakukan dengan beberapa mahasiswa terpilih untuk menggali lebih jauh tentang makna yang lebih mendalam dalam discourse yang berkembang di ruang ketiga, juga menggali usulan-usulan mereka ke depan.

Analisis

Sebagaimana riset etnografis, analisis dalam riset ini dilakukan sepanjang pengumpulan data berlangsung.

Analisis Domain

Analisis domain dilakukan untuk menemukan pertanyaan-pertanyaan struktural tahap lanjut. Hal ini dilakukan secara berulang untuk menemukan kategori konsep-konsep yang berlaku di kalangan mahasiswa.

Analisis Taksonomi

Analisis taksonomi dilakukan untuk memperdalam hubungan di antara konsep-konsep itu untuk menemukan taksonomi secara keseluruhan.

Analisis Komponen

Analisis komponen dilakukan untuk memperdalam taksonomi untuk menemukan untuk merumuskan kerangka sistemik ruang ketiga di kalangan civitas akademika di UNISA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *